English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Emas Dunia Naik Hampir 2 Persen usai The Fed Tahan Suku Bunga

Kompas · 1 Views

Kenaikan terjadi setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuan, yang memicu pelemahan dollar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Mengutip Reuters, harga emas spot naik 1,9 persen menjadi 4.101,99 dollar AS per ons, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 23 Juli di 4.116,26 dollar AS per ons pada sesi perdagangan.

Sementara harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun tipis sekitar 0,1 persen menjadi 4.036,30 dollar AS per ons.

Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga membuat nilai tukar dollar AS melemah terhadap euro.

Kondisi itu membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang selain dollar, sehingga meningkatkan permintaan terhadap logam kuning tersebut.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga memangkas penguatan sebelumnya, yang turut mendukung kenaikan harga logam mulia.

Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan, reli emas terjadi meski Ketua The Fed Kevin Warsh masih menyampaikan nada yang cenderung hawkish.

“Ini terasa seperti reli karena pasar lega setelah The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, belum jelas berapa lama kondisi ini akan bertahan karena pernyataan Warsh cukup kompleks dan pasar bisa saja mengubah penilaiannya setelah mencermatinya lebih dalam,” ujar Wong.

Adapun dalam konferensi pers, Warsh menegaskan bank sentral AS tidak memiliki target inflasi lain selain sasaran jangka panjang sebesar 2 persen, meskipun memutuskan mempertahankan suku bunga di tengah inflasi yang masih tinggi.

Wong menambahkan, kekhawatiran terhadap inflasi juga ikut mendorong penguatan harga emas.

"Obligasi jangka panjang sedang mengalami tekanan dan menyeret pasar saham menjelang penutupan perdagangan. Kekhawatiran terhadap inflasi membuat emas berkinerja lebih baik," katanya.

Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 64 persen, turun dibandingkan sebelum pengumuman kebijakan The Fed yang sebesar 81 persen.

Kini investor tengah menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS periode Juni yang dijadwalkan pekan ini.

Data itu akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati keputusan kebijakan moneter Bank of England (BoE) dan Bank of Japan (BoJ) yang secara luas diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga pada pekan ini.

Kedua bank sentral tersebut juga diperkirakan akan memperingatkan risiko meningkatnya tekanan inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Adapun logam mulia lainnya turut menguat. Harga perak spot naik 3,2 persen menjadi 58,96 dollar AS per ons, platinum naik 1,9 persen menjadi 1.636,10 dollar AS per ons, sedangkan palladium naik 1 persen menjadi 1.281,75 dollar AS per ons.