

Market Analysis
Bursa Jepang Tertekan Selasa (28/7), Nikkei Ambles 3% Akibat Aksi Jual Saham Chip

KONTAN.CO.ID - Indeks saham utama Jepang, Nikkei, merosot lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (28/7/2026).
Pelemahan dipicu aksi jual saham-saham semikonduktor menyusul penurunan saham produsen chip di Wall Street pada perdagangan sebelumnya.
Mengutip Reuters, hingga pukul 00.34 GMT, indeks Nikkei turun 3,59% ke level 62.599,14. Sementara itu, indeks yang lebih luas, Topix, melemah 2,44% menjadi 3.966,87.
Analis senior Daiwa Securities Daisuke Hashizume mengatakan, pelemahan pasar kali ini tidak mencerminkan aksi jual secara menyeluruh atau meningkatnya sentimen menghindari risiko (risk-off).
"Ini bukan aksi jual secara luas. Investor cenderung berhati-hati membeli saham menjelang rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat dan Jepang. Masih banyak ketidakpastian di pasar," ujarnya.
Sentimen negatif datang dari pasar Amerika Serikat setelah saham Nvidia ditutup turun 4,9% pada perdagangan Senin.
Indeks Philadelphia Semiconductor Index juga memperpanjang pelemahannya dengan turun 2,2%.
Meski masih menguat sekitar 63% sepanjang 2026, indeks semikonduktor tersebut kini telah terkoreksi sekitar 21% dari rekor penutupan tertingginya pada 22 Juni lalu.
Tekanan juga terlihat di kawasan Asia. Indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, tercatat anjlok sekitar 7% pada awal perdagangan Selasa.
Pergerakan Nikkei belakangan memang banyak dipengaruhi oleh saham-saham teknologi di Korea Selatan serta kinerja Philadelphia Semiconductor Index di Amerika Serikat.
Di Jepang, saham-saham semikonduktor mencatat penurunan tajam. Saham Advantest merosot 7,52%, sedangkan Tokyo Electron turun 8,84%.
Saham sektor perbankan yang sebelumnya menguat karena ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) juga ikut tertekan. Saham Mitsubishi UFJ Financial Group dan Sumitomo Mitsui Financial Group masing-masing turun hampir 3%.
Dari lebih dari 1.500 saham yang diperdagangkan di pasar utama Bursa Efek Tokyo, sekitar 64% mengalami penurunan, 31% menguat, dan sisanya bergerak stagnan.

