English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Emas Dunia Turun, Ketegangan Timur Tengah Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga AS

Kompas · 1 Views

KOMPAS.com - Harga emas dunia merosot hampir 2 persen pada akhir perdagangan Kamis (16/7/2026) waktu setempat atau Jumat (17/7/2026) pagi WIB, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Kondisi itu memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi dan meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi atau bahkan kembali naik, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,9 persen menjadi 3.984,64 dollar AS per ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli. Sementara harga kontrak emas berjangka AS melemah 1,5 persen ke level 3.992,10 dollar AS per ons.

Harga minyak bertahan di dekat level tertinggi dalam satu bulan setelah kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah meningkat. Hal itu dipicu laporan bahwa Iran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga memperbesar peluang bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Selain itu, penguatan harga minyak juga mendorong ekspektasi bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS masih berpotensi naik.

"Harga minyak kembali naik dan dengan level Brent yang lebih tinggi, saya pikir ekspektasi bahwa imbal hasil obligasi AS akan meningkat masih berlanjut, bahkan mungkin ada kenaikan suku bunga paling cepat di September. Hal itu memberi tekanan pada harga emas," ujar Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities Bart Melek.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 53 persen untuk The Fed menaikkan suku bunga pada September.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga bergerak lebih tinggi, sementara indeks dollar AS menguat 0,2 persen.

Penguatan dollar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi minat investor terhadap logam kuning itu.

Pekan ini, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi, meski belum memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.

Sementara itu, data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS melambat pada Juni, disusul penurunan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI).

Meski demikian, analis pasar Forex.com Fawad Razaqzada menilai tingginya harga energi akan menyulitkan The Fed untuk beralih ke kebijakan moneter yang lebih longgar.

"Meski beberapa data ekonomi jangka pendek mulai melemah, harga energi yang tetap tinggi akan menyulitkan The Fed mengambil sikap yang lebih dovish. Untuk alasan yang sama, investor lebih memilih dollar AS dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil," kata Razaqzada.Adapun logam mulia lainnya juga ditutup melemah.

Harga perak spot turun 3,6 persen menjadi 55,68 dollar AS per ons, platinum merosot 3,1 persen menjadi 1.621,83 dollar AS per ons, dan palladium turun 4,1 persen menjadi 1.260,70 dollar AS per ons.