

Market Analysis
Harga Emas Dunia Naik Usai Rilis Data Inflasi AS, Ini Penyebabnya
NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia menguat pada akhir perdagangan Kamis (25/6/2026) waktu setempat atau Jumat (26/6/2026) pagi WIB, setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) sesuai dengan ekspektasi pasar.
Kondisi itu meredakan kekhawatiran investor terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat, sehingga mendorong pelemahan dollar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,8 persen menjadi 4.032,74 dollar AS per ons, setelah sebelumnya sempat merosot hingga 1 persen pada awal sesi perdagangan.
Sementara harga kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat sekitar 1 persen ke level 4.047,60 dollar AS per ons.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) AS yang dirilis masih sejalan dengan perkiraan pasar sehingga tidak memberikan kejutan besar bagi investor.
"Data PCE secara umum sesuai dengan ekspektasi. Pada titik ini, itulah salah satu alasan mengapa pergerakan harga emas hari ini relatif lebih tenang," ujar Meger.
Indeks harga PCE AS tercatat naik 4,1 persen secara tahunan hingga Mei 2026.
Angka tersebut menjadi kenaikan terbesar sekaligus pertama kalinya inflasi PCE berada di atas 4 persen sejak April 2023.
Hasil tersebut sejalan dengan proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters, yakni inflasi PCE sebesar 4,1 persen.
Usai data dirilis, dollar AS yang sebelumnya menguat berbalik melemah.
Pelemahan ini membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga meningkatkan minat investor untuk membeli emas.
Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun tipis.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember sebesar 80 persen.
Angka itu turun dari 85 persen sebelum data PCE dirilis, namun masih lebih tinggi dibandingkan 61 persen setelah pertemuan kebijakan The Fed pekan lalu.
Meski demikian, Meger menilai perhatian pasar masih akan tertuju pada perkembangan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.

