

Market Analysis
Saham Teknologi AS Rontok, Bursa Asia Bersiap Lanjutkan Koreksi

Bloomberg Technoz, Bursa saham di Asia bersiap melanjutkan tren penurunan pada perdagangan Rabu (24/6). Sentimen ini mengekor aksi aksi jual besar-besaran yang melanda sektor teknologi di Wall Street, sekaligus memperdalam kekhawatiran pasar bahwa reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) selama ini sudah bergerak terlalu liar.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham untuk Jepang dan Korea Selatan terpantau kompak melemah, sementara kontrak indeks Hong Kong mengindikasikan penguatan tipis. Di sisi lain, kontrak berjangka saham AS bergerak naik sedikit pada perdagangan Rabu pagi, setelah indeks Nasdaq 100 yang padat teknologi anjlok 3,3% dan S&P 500 merosot 1,4% pada Selasa. Indeks acuan sektor semikonduktor yang sangat dipantau investor—dan sempat melonjak lebih dari dua kali lipat dari level terendahnya saat perang—bahkan ambruk sekitar 8%.
Kondisi pasar yang menjauhi risiko (risk-off) ini mendorong para investor untuk mengamankan dana mereka ke aset-aset aman (safe haven). Obligasi pemerintah AS (Treasury) terpantau menguat, sementara mata uang berstatus safe haven termasuk yen Jepang dan franc Swiss mencatatkan kinerja yang unggul. Sementara itu, harga minyak mentah dunia terkoreksi pada hari Selasa seiring makin terlihatnya aktivitas lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz usai tercapainya perjanjian damai sementara antara AS dan Iran.Fluktuasi ini terjadi tepat saat pasar bersiap menutup paruh pertama tahun ini dengan raihan keuntungan besar. Keuntungan tersebut sebelumnya ditopang oleh meredanya ketegangan geopolitik global, solidnya laporan laba perusahaan, serta gairah investasi di sektor AI. Namun, tren penguatan itu kini mulai goyah menyusul besarnya tanda tanya mengenai apakah komitmen belanja besar dari perusahaan-perusahaan teknologi mampu menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang sepadan.

Pergerakan saham teknologi AS. (Sumber: Bloomberg)
"Terlepas dari apakah kita akan melihat reli dalam jangka pendek atau tidak, kami tetap melihat adanya risiko penurunan jangka menengah untuk tren investasi sektor teknologi dan AI," ujar Jonathan Krinsky, kepala teknikal pasar di BTIG LLC. Ia menambahkan bahwa ada potensi penurunan tambahan antara 10% hingga 15% pada kelompok saham semikonduktor.
Rontoknya sektor teknologi di bursa AS mengekor aksi jual tajam yang telah mengguncang Asia pada hari Selasa kemarin. Aksi tersebut bahkan sempat membuat indeks Kospi Korea Selatan anjlok hingga 10% dan memicu pembekuan perdagangan sementara. Dua raksasa produsen cip terafiliasi AI, SK Hynix Inc dan Samsung Electronics Co, masing-masing tumbang lebih dari 10%.
Volatilitas lebih lanjut juga diprediksi masih akan membayangi saham-saham cip memori—sektor yang menyumbang porsi terbesar dalam keuntungan bursa saham tahun ini. Sentimen negatif ini dipicu oleh laporan media lokal yang mengindikasikan bahwa SK Hynix tengah mengalihkan fokus produksinya ke produk-produk yang lebih murah.
"Aksi jual yang menghindari risiko ini mencerminkan adanya ketakutan bahwa euforia terhadap AI sudah terlalu berlebihan," kata Chris Low dari FHN Financial.
Kini, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis laporan keuangan Micron Technology Inc pada hari Rabu ini. Data tersebut dinilai akan menjadi ujian paling nyata untuk membuktikan apakah permintaan infrastruktur AI masih cukup kuat untuk mempertahankan reli pasar tahun ini. Strategis veteran Louis Navellier menilai laporan ini akan menjadi penutup yang krusial bagi musim laporan laba yang "luar biasa". Ia mencatat bahwa setiap koreksi saat ini justru harus dilihat sebagai "kesempatan untuk membeli", meskipun saham Micron sendiri sudah merosot 13% pada hari Selasa.
Di kawasan Asia lainnya, aset-aset Indonesia akan menjadi sorotan setelah MSCI Inc kembali menunda peninjauan terhadap pasar saham Indonesia. MSCI menyatakan masih membutuhkan waktu lebih lama untuk menilai apakah reformasi transparansi yang baru diumumkan benar-benar berjalan efektif.
Di pasar pendapatan tetap, obligasi pemerintah AS menguat karena aksi jual saham dan turunnya harga minyak mengurangi tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi. Pasar swap kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tambahan dalam satu tahun ke depan sedikit menurun, dengan total pengetatan sekitar 45 basis poin yang masih diperkirakan hingga pertengahan 2027.
Imbal hasil obligasi turun sekitar satu hingga tiga basis poin, dipimpin oleh tenor jangka pendek yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan The Fed. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun sekitar tiga basis poin menjadi 4,20 persen.
"Pasar saat ini sudah cukup mencerminkan prospek kebijakan The Fed yang lebih hawkish," kata Izaac Brook, ahli strategi suku bunga di RBC Capital Markets. Ia menambahkan bahwa imbal hasil riil obligasi AS tenor dua tahun kini berada di level tertinggi sejak The Fed mulai memangkas suku bunga pada September 2024.

