English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Inflasi Produsen Jepang Naik 6,3%, Imbas Kejutan Energi Akibat Konflik Timur Tengah

KONTAN · 1 Views

KONTAN.CO.ID - Tren kenaikan harga di tingkat grosir (wholesale prices) Jepang terus memperpanjang lonjakannya secara signifikan sepanjang tahun hingga bulan Mei.

Melansir Reuters, data resmi pemerintah yang dirilis pada Rabu (10/6/2026) pagi menunjukkan bahwa angka inflasi produsen melesat di luar dugaan, sekaligus mengonfirmasi adanya tekanan biaya logistik dan energi yang kian berat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan laporan dari Bank of Japan (BOJ), Indeks Harga Barang Perusahaan (CGPI) yang mengukur pergerakan harga yang dikenakan oleh sesama korporasi atas barang dan jasa mereka melonjak 6,3% secara tahunan (YoY) pada Mei.

Realisasi ini melampaui median proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan di level 5,5%, serta mencatatkan akselerasi dari rapor bulan April yang berada di angka 5,3% setelah direvisi.

Biaya Impor Berbasis Yen Meroket Tajam

Pemicu utama dari memanasnya harga di tingkat hulu ini adalah pembengkakan biaya pengadaan bahan baku dari luar negeri yang harus ditanggung oleh pelaku industri di Jepang.

Kondisi ini diperparah oleh nilai tukar Yen yang terus melemah terhadap mata uang global utama.

Data BOJ mencatat pergerakan indikator biaya impor sebagai berikut:

  • Indeks Harga Impor Berbasis Yen (Mei): Melambung tinggi hingga 25,5% secara tahunan.
  • Indeks Harga Impor Berbasis Yen (April): Berada di posisi 21,0% (setelah direvisi naik).

Sementara itu, secara bulanan (month-on-month), harga grosir di negeri sakura tersebut tercatat tumbuh sebesar 0,9% pada bulan Mei.

Angka pertumbuhan bulanan ini terpantau melandai jika dibandingkan dengan lonjakan tajam pada bulan April yang sempat menyentuh angka 2,8%.

Kombinasi antara mahalnya harga komoditas energi dunia dan merosotnya daya beli mata uang domestik kini menaruh beban berat di pundak para pelaku usaha di Jepang, yang pada gilirannya berpotensi mengalirkan tekanan inflasi ini langsung ke tingkat konsumen akhir dalam beberapa bulan ke depan.