English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street Ditutup Bervariasi, Dow Jones Cetak Rekor Baru Saat Saham AI Berguguran

Kompas · 1 Views

KOMPAS.com - Bursa Saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa, sementara Nasdaq Composite justru melemah karena investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham semikonduktor dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke sektor non-teknologi.

Mengutip CNBC Internasional pada Jumat (5/6/2026), indeks Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan melonjak 874,86 poin atau 1,73 persen ke rekor 51.561,93.

Sebaliknya, Nasdaq Composite turun tipis 0,09 persen ke posisi 26.830,96. Sementara itu, indeks S&P 500 masih mampu menguat 0,41 persen dan berakhir di posisi 7.584,31.

Penguatan Dow Jones ditopang oleh kenaikan signifikan saham UnitedHealth yang melesat lebih dari 5 persen. Saham JPMorgan Chase turut menguat 3 persen, sedangkan Walmart naik hampir 1 persen.

Di luar anggota Dow Jones, sejumlah saham sektor non-teknologi juga mencatat kinerja positif. Costco naik sekitar 1 persen, sementara Eli Lilly melesat lebih dari 4 persen.

Perpindahan aliran dana atau rotasi sektor tersebut dipicu oleh aksi jual pada saham Broadcom yang mendorong investor mengurangi eksposur terhadap saham-saham yang berkaitan dengan AI.

Saham produsen chip tersebut anjlok lebih dari 12 persen setelah melaporkan pendapatan kuartal kedua fiskal yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Tekanan juga melanda saham-saham semikonduktor lainnya yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar hingga mencetak rekor tertinggi. ETF sektor semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 1 persen. Saham Arm Holdings merosot lebih dari 4 persen, sedangkan Micron Technology terkoreksi hampir 8 persen.

Chief Investment Officer Montis Financial, Dennis Follmer, mengatakan meskipun tema investasi AI masih menarik setelah musim laporan keuangan yang kuat, reli yang berlangsung selama lebih dari dua bulan terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

“Setelah musim laporan keuangan yang luar biasa, tema AI masih tetap kuat. Namun reli ini mulai kehilangan tenaga setelah lonjakan spektakuler selama lebih dari dua bulan,” ujar Follmer.

Ia menambahkan ketidakpastian geopolitik yang terus berlangsung di Selat Hormuz berpotensi membuat pergerakan pasar saham tertahan dalam jangka pendek.

“Selama belum ada tanda-tanda berakhirnya kebuntuan di Selat Hormuz, kami tidak akan terkejut jika pasar saham bergerak stagnan untuk sementara waktu seiring investor mencerna realitas tersebut dan pasar beristirahat dari reli yang terjadi belakangan ini,” katanya.

Menurut Follmer, pergerakan pasar pada Kamis juga mengindikasikan fase awal rotasi sektor investasi. Investor mulai lebih selektif dalam menilai prospek masing-masing emiten yang terkait dengan AI.

“Pergerakan hari ini menunjukkan fase awal dari rotasi sektor dan sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua saham AI memiliki karakteristik yang sama. Ekspektasi pasar terhadap masing-masing saham juga berbeda-beda,” lanjut dia.

Pergerakan tersebut terjadi sehari setelah Wall Street mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran investor terhadap risiko global.

Iran dilaporkan melancarkan serangan ke Bandara Internasional Kuwait pada Rabu dini hari. Sehari sebelumnya, Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) menyatakan berhasil menggagalkan sejumlah rudal balistik dan pesawat nirawak Iran serta melakukan serangan balasan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri di Pulau Qeshm, Teluk Persia.

Militer AS menyebut langkah tersebut dilakukan sebagai respons atas upaya serangan yang dilakukan Teheran. Meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut kembali menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memicu gangguan pasokan energi global dan meningkatkan tekanan inflasi