

Market Analysis
Proyeksi Gerak Harga Emas Hari Ini Kamis (28/5), Tekanan Jual Masih Mendominasi

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dunia masih dibayangi tekanan bearish di tengah penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan pergerakan harian harga emas masih menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan seiring harga yang belum mampu keluar dari area resistance penting.
Secara teknikal, harga emas pada pergerakan harian masih bergerak di bawah indikator moving average (MA) 21 dan MA 50 yang menandakan tren utama masih berada dalam fase penurunan.
“Posisi harga di bawah MA biasanya menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase bearish dan peluang pelemahan masih cukup besar,” ungkap Geraldo dalam risetnya, Kamis (28/5/2026).
Berdasarkan data Kitco Metal, harga emas di pasar spot terpantau melemah 1,36% atau 60,80 poin ke level US$4.394,70 per troy ounce pada pukul 10.03 WIB.
Menurutnya, area support yang perlu dicermati pelaku pasar berada pada kisaran 4.349 hingga 4.247. Level tersebut diperkirakan menjadi target pelemahan berikutnya apabila sentimen negatif masih bertahan.
Dari sisi indikator teknikal, Stochastic Oscillator juga masih menunjukkan ruang penurunan menuju area oversold atau jenuh jual. Namun, hingga saat ini belum terlihat adanya sinyal pembalikan arah yang cukup kuat untuk mengubah tren utama.
Tekanan terhadap emas juga datang dari faktor fundamental, terutama penguatan dolar AS dan tingginya yield US Treasury. Kondisi tersebut membuat investor cenderung beralih ke instrumen berbasis dolar yang dinilai menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas.
Sebagai aset yang tidak menghasilkan return, emas umumnya kurang diminati ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi berada pada level tinggi. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve turut memperbesar tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Pasar juga masih melihat peluang bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi tersebut muncul apabila data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi, tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi, masih menunjukkan kondisi yang cukup solid.
”Jika kondisi ekonomi AS tetap kuat, maka peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat akan semakin kecil. Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena dapat kembali mendorong penguatan dolar AS,” lanjutnya.
Di sisi lain, mulai meredanya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global turut mengurangi permintaan aset safe haven. Sentimen pasar yang lebih positif membuat aliran dana beralih ke aset berisiko seperti saham dibandingkan emas.
Menurut Geraldo, kondisi tersebut membuat harga emas masih kesulitan mendapatkan katalis penguatan dalam jangka pendek. Hingga saat ini pasar juga belum melihat adanya faktor besar yang mampu mendorong kenaikan permintaan safe haven secara signifikan.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan The Fed, serta pergerakan dolar AS yang sewaktu-waktu dapat memicu volatilitas harga emas.
Jika muncul sentimen baru yang meningkatkan permintaan aset aman, peluang rebound harga emas tetap terbuka meskipun tren utama saat ini masih bearish.

