English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Kalender Ekonomi: Inflasi & Kebijakan Suku Bunga Warnai Pekan Ini

Bloomberg Technoz · 1 Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertahan tinggi telah mengerek ekspektasi inflasi dan membuat bank sentral negara-negara di dunia diperkirakan mengambil langkah pengetatan kebijakan suku bunga secara serentak pada kuartal II-2026.

Langkah bank sentral dunia ini menyusul proyeksi terhadap bank sentral Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan juga akan mengambil langkah hawkish lantaran menghadapi risiko inflasi yang bertahan lebih lama akibat gangguan pasokan energi global.

Harga bensin di AS saat ini mendekati level tertinggi sejak 2022. Kenaikan biaya energi membuat masyarakat semakin pesimistis terhadap kondisi ekonomi. Sentimen konsumen bahkan tercatat jatuh ke rekor terendah, mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap daya beli rumah tangga.

Jika ketegangan geopolitik terus berlangsung dan gangguan pasokan minyak tidak segera mereda, tekanan inflasi diperkirakan semakin sulit dikendalikan. Dalam kondisi seperti ini, ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga menjadi sangat terbatas.

Pelaku pasar kini mulai mengubah ekspektasi terhadap arah kebijakan The Fed. Investor akan mencermati pidato sejumlah pejabat Federal Reserve pekan depan, termasuk John Williams, Philip Jefferson, dan Neel Kashkari, untuk mencari petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya.

Sinyal paling jelas datang dari Gubernur The Fed Christopher Waller yang menyatakan peluang kenaikan suku bunga kini sama besar dengan kemungkinan penurunan suku bunga. Pernyataan itu memperlihatkan perubahan sikap otoritas moneter AS yang sebelumnya cenderung dovish.

Inflasi AS diperkirakan naik menjadi 3,8%. Di tengah proyeksi tersebut, sejumlah data penting lainnya akan mewarnai agenda pekan ini.

Di Eropa, inflasi di negara-negara utama seperti Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol diperkirakan tetap tinggi akibat lonjakan harga energi. Hal itu dapat memperumit langkah European Central Bank yang sebelumnya mulai mempertimbangkan pelonggaran moneter.

Konsensus yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan inflasi Italia mencapai 3,3% secara tahunan pada Mei, dari 2,8% pada April. Sementara, inflasi Spanyol diprediksi mencapai 3,4%, dari posisi April di 3,2%, dan Perancis 2,5% dari sebelumnya 2,2%. 

Di sisi lain, Afrika Selatan bahkan diperkirakan akan menaikkan suku bunga pekan ini untuk menahan dampak inflasi akibat perang Iran. Langkah serupa juga berpotensi terjadi di negara berkembang lain yang rentan terhadap kenaikan harga minyak.

Di Australia, data inflasi yang dirilis Rabu kemungkinan masih berada di atas target bank sentral pada April, mempertahankan tekanan terhadap Reserve Bank of Australia di tengah ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga tambahan pada Agustus atau September.

Dari Asia, data inflasi Tokyo diperkirakan stabil dan memposisikan bank sentral Jepang dalam posisi sulit antara menaikkan atau menahan suku bunga. Di sisi lain, inflasi bulanan Australia kemungkinan menunjukkan menunjukkan inflasi yang mlelandai karena adanya subsidi pajak bahan bakar dan penguatn mata uang untuk membantu meredam dampak lonjakan harga minyak.

Sementara, inflasi Singapura dan Sri Lanka diperkirakan naik tipis. Dengan kondisi ini, Sri Lanka diperkirakan akan menaikkan suku bunga 50 basis poin (bps).