English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street Anjlok Terseret Imbal Hasil Obligasi AS yang Melonjak

Kompas · 1 Views

JAKARTA, KOMPAS.com- Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (20/5/2026), terseret lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Tekanan terbesar kembali menghantam saham teknologi sehingga membuat indeks Nasdaq memimpin pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut.

Mengutip Reuters pada Rabu (20/5/2026), Indeks Dow Jones Industrial Average turun 322,24 poin atau 0,65 persen ke level 49.363,88.

Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 0,67 persen ke 7.353,61 dan Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam sebesar 0,84 persen ke level 25.870,71.

Sentimen pasar dibebani kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang sempat menyentuh 4,687 persen atau menjadi level tertinggi sejak Januari 2025.

Meski kemudian sedikit melandai ke kisaran 4,66 persen, kenaikan yield selama tiga hari beruntun memicu kekhawatiran investor bahwa tekanan inflasi masih sulit mereda.

Kondisi tersebut diperparah harga minyak dunia yang tetap tinggi di atas 110 dollar AS per barrel di tengah ketegangan konflik Iran dan Amerika Serikat.

Pasar masih mencermati perkembangan diplomasi kedua negara setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sempat menunda serangan militer terhadap Iran menyusul proposal perdamaian dari Teheran.

Namun, Trump juga menegaskan AS masih mungkin kembali menyerang Iran jika diperlukan.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan Iran menunjukkan kemajuan dan kedua pihak tidak menginginkan eskalasi perang kembali terjadi.

Meski demikian, pelaku pasar menilai belum ada kepastian yang cukup kuat untuk meredakan ketegangan geopolitik.

Managing Director Rosenblatt Securities Michael James mengatakan pasar mulai gelisah karena belum ada tanda-tanda gencatan senjata yang benar-benar solid.

Menurut dia, selama konflik belum mereda, harga minyak dan yield obligasi akan tetap tinggi sehingga menambah tekanan terhadap pasar saham.

Kenaikan yield juga memicu perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve