

Market Analysis
Wall Street Ditutup Bervariasi, Nasdaq dan S&P 500 Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Yield Obligasi AS

NEW YORK, KOMPAS.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (19/5/2026) waktu setempat.
Indeks Nasdaq dan S&P 500 melemah seiring aksi ambil untung pada saham-saham teknologi, di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Mengutip Reuters pada Rabu (19/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average menguat 159,95 poin atau 0,32 persen ke level 49.686,12.
Sementara itu, indeks S&P 500 turun 5,45 poin atau 0,07 persen menjadi 7.403,05 dan Nasdaq Composite melemah 134,41 poin atau 0,51 persen ke level 26.090,73.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang menjadi acuan biaya pinjaman global sempat menyentuh level tertinggi sejak Februari 2025. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi akibat terganggunya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia.
Harga minyak mentah AS ditutup melonjak lebih dari 3 persen setelah bergerak volatil sepanjang perdagangan. Namun, kenaikan harga minyak mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan menunda rencana serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi negosiasi terkait upaya mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran.
Trump mengatakan Iran telah mengirimkan proposal perdamaian baru ke Washington. Meski demikian, ia menegaskan AS siap kembali melanjutkan serangan apabila kesepakatan tidak tercapai.
Manajer portofolio NFJ Investment Group di Dallas, Burns McKinney, mengatakan harga minyak menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar dalam beberapa waktu terakhir.
“Variabel utama saat ini adalah potensi blokade Selat Hormuz yang mendorong harga minyak lebih tinggi dan meningkatkan risiko ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali dalam jangka panjang,” ujar McKinney.
Ia menambahkan, kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan besar terhadap sektor berdurasi panjang seperti teknologi dan saham chip yang sebelumnya mencatat kenaikan signifikan.
Menurut McKinney, investor saham terlihat lebih optimistis terhadap perkembangan geopolitik dibanding investor obligasi.
“Setiap beberapa hari muncul rumor mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dan saham kembali menguat. Investor mempercayainya, tetapi kemudian kembali kecewa karena konflik masih menemui jalan buntu,” katanya.
Pelemahan tersebut menjadi penurunan kedua berturut-turut bagi Nasdaq dan S&P 500 setelah reli kuat sejak akhir Maret 2026.
S&P 500 sebelumnya sempat menguat lebih dari 18 persen dari posisi terendah pada 30 Maret, yang juga merupakan level penutupan terendah sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari.
Dalam periode yang sama, Nasdaq melonjak sekitar 28 persen didorong optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta solidnya kinerja emiten teknologi.

