

Market Analysis
Emas Konsolidasi di Level US$5.000, Pasar Cermati Dampak Perang dan Inflasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dunia bergerak terbatas dan bertahan di atas level US$5.000 per troy ounce seiring dengan sikap pelaku pasar yang mencermati risiko inflasi akibat lonjakan harga energi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (17/3/2026), harga emas di pasar spot naik 0,4% menjadi US$5.026,75 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex menguat 0,81% menjadi US$5.040,40 per troy ounce.
Harga logam mulia sempat menguat hingga 0,5% dan bertahan di atas level US$5.000 per troy ounce setelah pada sesi sebelumnya turun 0,3%. Kenaikan emas terjadi ketika harga minyak kembali menguat setelah mencatat penurunan pertama dalam hampir sepekan.
Penguatan minyak dipicu meningkatnya serangan Iran terhadap infrastruktur energi di sekitar Teluk Persia, sementara Amerika Serikat bersiap merilis tahap awal cadangan minyak darurat. Presiden AS Donald Trump juga meminta bantuan negara-negara lain untuk mengamankan Selat Hormuz, yang arus pelayarannya saat ini hampir terhenti.
Seiring perang AS–Israel dengan Iran memasuki pekan ketiga dan lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi, peluang bank sentral utama seperti Federal Reserve untuk memangkas suku bunga semakin mengecil. Pelaku pasar bahkan hampir tidak melihat kemungkinan pemangkasan suku bunga pada rapat The Fed pekan ini.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menekan harga logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski demikian, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 16% sejak awal tahun. Ketidakpastian geopolitik serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed terus menopang permintaan aset lindung nilai.
Momentum kenaikan emas memang melambat sejak perang pecah pada 28 Februari. Namun, kekhawatiran terhadap stagflasi—kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi tinggi—dinilai tetap mendukung prospek emas dalam jangka panjang karena memperkuat daya tariknya sebagai penyimpan nilai.
Permintaan emas juga tetap kuat di China. Investor di negara tersebut terus menambah kepemilikan emas melalui exchange-traded fund (ETF) setiap hari sejak kembali dari libur Tahun Baru Imlek pada 24 Februari.
Dalam periode tersebut, total tambahan investasi emas mencapai lebih dari 17 miliar yuan atau sekitar US$2,5 miliar, berdasarkan perhitungan Bloomberg. Premi harga emas di Shanghai bahkan mulai bergerak di atas harga global, yang mencerminkan permintaan domestik yang solid.
Head of Market Analysis StoneX Financial Ltd. Rhona O’Connell mengatakan permintaan emas di China masih bertahan cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir. Namun, penguatan mata uang yuan turut memberikan tekanan terhadap harga emas di pasar domestik.
