English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Asia Bersiap Memerah, Tertekan Konflik Timteng yang Memanas

Bloomberg Technoz · 1 Views

Richard Henderson - Bloomberg News

Bloomberg Technoz, Bursa saham Asia bersiap menghadapi zona merah pada pembukaan perdagangan Jumat (6/3) pagi. Sentimen negatif ini mengikuti jatuhnya pasar saham dan obligasi Amerika Serikat (AS), yang memperpanjang volatilitas pasar seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Di sisi lain, harga minyak dunia melonjak dan dolar AS terpantau menguat.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham untuk Jepang, Australia, Hong Kong, dan Korea Selatan (Korse) semuanya diperdagangkan lebih rendah, mengekor penutupan negatif di Wall Street. Indeks S&P 500 turun 0,6%, di mana hampir seluruh sektor melemah kecuali energi, teknologi, dan konsumsi primer—sebuah indikasi bahwa investor masih mencoba mencari peluang di tengah kemuraman pasar. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 yang padat teknologi terkoreksi 0,3%.

Raksasa semikonduktor Nvidia Corp berhasil mencatat kenaikan tipis meskipun indeks saham cip secara keseluruhan anjlok 1,2%. Tekanan ini muncul menyusul laporan Bloomberg News bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan kebijakan izin khusus untuk penjualan cip kecerdasan buatan (AI).

Fokus pada sektor semikonduktor diprediksi akan mendominasi sesi perdagangan Asia hari ini, terutama di Korea Selatan. Saham-saham cip di kawasan ini sebelumnya sempat melonjak drastis berkat siklus investasi besar-besaran pada teknologi AI.

Serangan AS-Israel terhadap Iran telah mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah AS kini mendekati US$81 per barel akibat kekhawatiran bahwa gangguan di Selat Hormuz akan menghambat pasokan global. Konflik ini mulai mengganggu aliran minyak ke pembeli utama. China sebagai importir terbesar pun mulai mengambil langkah penghematan bahan bakar. Kondisi ini mempertinggi risiko inflasi dan volatilitas pasar jika pertempuran terus berlanjut.

"Hal yang paling krusial sekarang adalah apakah perang ini akan berlangsung dalam hitungan hari, minggu, atau lebih lama," ujar Marco Oviedo, strategi senior di XP Investimentos. Kemungkinan bahwa konflik tidak berlangsung lama “tetap menjadi skenario dasar, dan bahwa AS memenangkan pertempuran. Tetapi penolakan Iran untuk mundur membuat situasi tetap tegang.”

Lalu lintas Selat Hormuz. (Sumber: Bloomberg)

Pada Kamis malam, Iran meluncurkan gelombang baru serangan rudal dan drone ke wilayah Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kepada NBC News bahwa negaranya tidak berniat melakukan negosiasi atau meminta gencatan senjata.

Di sisi lain, AS tetap bersikap tegas. Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa ia seharusnya terlibat dalam proses pemilihan pemimpin baru Iran, menurut laporan media tersebut yang mengutip wawancara dengan presiden.

Dengan harga minyak mentah mencapai level tertinggi sejak Juli 2024, pemerintahan Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengatasi lonjakan harga minyak dan bensin di tengah perang di Iran, kata Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum.

Kenaikan harga minyak meningkatkan risiko rusaknya kembali korelasi antara saham dan obligasi, meskipun obligasi masih dapat berfungsi sebagai diversifikasi terhadap risiko saham, menurut analis Morgan Stanley, termasuk Serena Tang.

“Jika guncangan harga minyak yang berkepanjangan mendorong pertumbuhan ekonomi turun dan inflasi naik, kita mungkin melihat kembali situasi 2021–2023 ketika saham dan obligasi turun bersamaan,” kata mereka.

Sementara itu, aksi jual obligasi global belum menunjukkan tanda mereda, dengan obligasi pemerintah AS atau US Treasuries dijual di berbagai tenor karena kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak akan memicu tekanan inflasi yang dapat menghambat kemampuan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik empat basis poin menjadi 4,14% pada Kamis. Dolar AS menguat 0,4%, sementara yen melemah terhadap mata uang tersebut.

Menjelang rilis laporan ketenagakerjaan AS, data menunjukkan klaim pengangguran berada di dekat level terendah dalam setahun terakhir di tengah kondisi pemutusan hubungan kerja yang relatif rendah. Laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat diperkirakan menunjukkan perekrutan tenaga kerja melambat bulan lalu setelah hasil yang kuat pada Januari, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil.

“Semakin kuat angkanya semakin baik mengingat kenaikan ekspektasi inflasi akibat harga energi,” kata tim JPMorgan Chase Market Intelligence yang dipimpin Andrew Tyler. “Angka yang lebih lemah akan meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga, tetapi risikonya adalah stagflasi dalam jangka pendek.”