English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street Libur, Saham Eropa Tergelincir Usai Trump Ancam Tarif Baru 25 Persen

KOMPAS · 81.5K Views

KOMPAS.com - Ancaman tarif impor Amerika Serikat terhadap negara-negara Eropa kembali mengguncang pasar keuangan global. Bursa saham Eropa pada awal pekan ini bergerak melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan rencana pengenaan bea masuk terhadap delapan negara anggota NATO yang mendukung Greenland, kecuali tercapai kesepakatan dengan Washington.

Sentimen tersebut membuat investor menjauh dari aset berisiko. Pada penutupan perdagangan Senin (19/1/2026), indeks Stoxx Europe 600 tergelincir 1,2 persen dan menjauh dari posisi tertinggi sepanjang masa yang sempat dicapai sebelumnya.

Tekanan paling besar terlihat pada saham-saham sektor otomotif dan barang mewah, yang sensitif terhadap dinamika perdagangan global.

Di bursa utama, pelemahan terjadi secara merata. Indeks CAC 40 Prancis turun 1,8 persen, DAX Jerman melemah 1,4 persen, dan FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,4 persen.

 

Ilustrasi peta Greenland. Kanada disebut siap kirim pasukan ke Greenland untuk latihan bersama NATO di tengah rencana Trump menguasai pulau milik Denmark itu.
 
Pexels/Lara Jameson Ilustrasi peta Greenland. Kanada disebut siap kirim pasukan ke Greenland untuk latihan bersama NATO di tengah rencana Trump menguasai pulau milik Denmark itu.
 
Di tengah tekanan tersebut, saham sektor telekomunikasi justru mampu mengungguli pasar, sementara saham-saham pertahanan memangkas sebagian kenaikan yang sebelumnya dipicu ketegangan geopolitik.

Ancaman tarif ini berawal dari pernyataan Trump pada Sabtu lalu yang mengumumkan pengenaan bea masuk 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang dari negara-negara Eropa yang menyatakan dukungan kepada Greenland.

Tarif itu akan dinaikkan menjadi 25 persen pada Juni, apabila tidak tercapai kesepakatan terkait pembelian Greenland secara “lengkap dan menyeluruh”.

Menurut kepala strategi investasi ING, Vincent Juvyns, dampak ekonomi dari kebijakan tersebut masih bisa diserap jika dilihat semata-mata dari sisi tarif.

“Jika dilihat murni dari sisi tarif, dampak ekonominya masih bisa diserap,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg.

Namun, ia mengingatkan risiko yang lebih luas. “Namun kemungkinan terjadinya perpecahan di dunia Barat akan membawa konsekuensi yang sulit diukur skalanya,” lanjutnya.

Sektor Otomotif dan Barang Mewah Paling Tertekan

 

Logo LVMHAFP Logo LVMH
Tekanan paling nyata terlihat pada saham-saham perusahaan besar di sektor otomotif dan barang mewah. Raksasa barang mewah asal Perancis, LVMH, anjlok 4,3 persen, yang merupakan penurunan terbesar sejak April.

Di Jerman, saham Volkswagen AG turun 2,8 persen dan Mercedes-Benz Group melemah 2,2 persen.

Di sisi lain, saham perusahaan pertahanan Rheinmetall AG justru naik 1 persen, mencerminkan pergeseran minat investor ke sektor yang dinilai lebih diuntungkan oleh ketegangan geopolitik.

Analis senior Bloomberg Intelligence, Laurent Douillet, menilai eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa yang dipicu isu Greenland berpotensi menggerus prospek kinerja korporasi.

“Eskalasi perang dagang AS–Eropa yang dipicu isu Greenland berpotensi menghapus sebagian besar pertumbuhan laba perusahaan Eropa pada 2026,” tulisnya. Ia menambahkan, kondisi tersebut dapat memicu koreksi pasar di kisaran satu digit menengah.

Dari sisi makroekonomi, ekonom Goldman Sachs Group memperkirakan bahwa tarif Amerika Serikat sebesar 10 persen dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) riil negara-negara yang terdampak sekitar 0,1 hingga 0,2 persen melalui penurunan volume perdagangan.

Jerman diperkirakan menjadi negara yang menerima dampak paling besar.

“Tekanannya bisa lebih besar jika muncul efek kepercayaan atau gejolak pasar keuangan,” kata ekonom Goldman Sachs.