

Market Analysis
Pergerakan Harga Emas dan Perak Hari Ini, Selasa 20 Januari 2026 di Pasar Spot

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dan perak di pasar spot bergerak di kisaran rekor tertingginya pada perdagangan Selasa (20/1/2026), di tengah memanasnya ketegangan geopolitik akibat dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland.
Rencana Trump ini memicu kekhawatiran eskalasi perang dagang AS–Eropa dan menjaga pasar dalam kondisi siaga.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,17% atau 8,14 poin ke level US$4.662,75 per troy ounce pada pukul 07.37 WIB, sedangkan harga emas berjangka Comex AS menguat 1,37% ke level US$4.667,70 per troy ounce.
Sementara itu, harga perak di pasar spot terpantau turun perak turun 0,6% ke level US$93,8590 per ons,
Setelah reli tajam pada sesi sebelumnya, logam mulia bergerak sedikit melemah. Kenaikan tersebut dipicu pernyataan Trump yang berencana mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa yang menentang ambisinya atas Greenland.
Pada awal perdagangan Selasa, perak sempat menyentuh rekor US$94,7295 per troy ounce, sementara emas diperdagangkan di sekitar US$4.670 per ons.
Agresivitas AS terhadap sekutu-sekutu NATO mengguncang sentimen pasar, meningkatkan permintaan aset aman dan menghidupkan kembali narasi “Sell America”. Pelaku pasar kini mencermati langkah balasan Eropa.
Presiden Prancis Emmanuel Macron disebut berniat mendorong aktivasi instrumen anti-pemaksaan Uni Eropa, meski Kanselir Jerman Friedrich Merz mengindikasikan upaya untuk meredam eskalasi respons tersebut.
Krisis Greenland memberikan bahan bakar baru bagi reli logam mulia yang telah terbentuk sejak beberapa bulan terakhir. Pada saat yang sama, serangan kembali pemerintahan Trump terhadap Federal Reserve turut menopang kinerja emas dan perak sepanjang tahun ini, seiring bangkitnya kembali kekhawatiran pasar atas independensi bank sentral AS.
Aanalis Saxo Bank A/S Ole Hansen mengatakan reli logam mulia tidak dimulai oleh sengketa ini, dan kecil kemungkinan akan berakhir karenanya.
“Episode Greenland justru menyiramkan bahan bakar baru ke reli yang telah terbangun selama berbulan-bulan, didorong oleh lanskap makro dan geopolitik yang kian tidak nyaman bagi investor yang hanya mengandalkan aset keuangan,” tulisnya dalam riset, seperti dikutip Bloomberg.

