

Market Analysis
Bursa Asia Bersiap Dibuka Melemah, Reli Logam Mulia Terhenti

Shikhar Balwani - Bloomberg News
Bloomberg Technoz, Bursa saham Asia diprediksi akan dibuka di zona merah pagi ini, mengikuti tren pelemahan sektor teknologi di Wall Street. Fokus investor juga tertuju pada sektor logam mulia setelah harga perak dan emas merosot dari level tertinggi sepanjang masa.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham di Australia dan Jepang menunjukkan awal yang lemah bagi pasar mereka. Sentimen ini muncul setelah indeks S&P 500 terkoreksi 0,3%, yang turut menyeret saham-saham raksasa teknologi seperti Tesla Inc, Nvidia Corp, dan Meta Platforms. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 tergelincir 0,5%.
Pelemahan di sektor ekuitas ini "merupakan pembalikan dari pekan lalu saat saham teknologi memimpin kenaikan," ujar Joe Mazzola, kepala strategi perdagangan & derivatif di Charles Schwab. Namun, ia menambahkan bahwa koreksi ini "tampaknya tidak terhubung dengan faktor fundamental tertentu."Indeks saham global pun harus mengakhiri reli kenaikan selama tujuh hari berturut-turut. Di saat yang sama, penguatan logam mulia terhenti seiring langkah investor melakukan aksi ambil untung (profit taking). Harga perak anjlok 9% setelah sempat menembus angka US$80 per ons pada hari Senin (29/12)—kenaikan yang sebelumnya didorong oleh perdagangan spekulatif dan kekhawatiran akan kelangkaan pasokan. Sementara itu, harga emas merosot lebih dari 4%.
Pergerakan saham global. (Sumber: Bloomberg)
Sepanjang tahun berjalan (YtD), S&P 500 tercatat naik sekitar 17%. Meski performa ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya khawatir akan adanya aksi jual akibat kebijakan tarif, angka tersebut masih kalah dibandingkan beberapa bursa global lainnya. Indeks MSCI All Country World telah melonjak 21% pada tahun 2025, sementara indeks saham Asia telah reli hampir 26%.
Meski demikian, konsensus optimistis mulai terbentuk bahwa saham-saham AS akan melanjutkan reli pada tahun 2026 setelah mencatat keuntungan tiga tahun berturut-turut. Terlepas dari berbagai risiko—mulai dari potensi lesunya tren kecerdasan buatan (AI) hingga kejutan kebijakan yang tak terduga—para analis memprediksi rata-rata kenaikan 9% lagi untuk S&P 500 tahun depan.
“Dolar AS dan S&P 500 diperkirakan akan bersinar di tahun 2025, namun realitanya sedikit berbeda karena gejolak dan perubahan rencana pengumuman tarif pada bulan April sempat mengikis kepercayaan terhadap kebijakan Amerika. Indeks acuan AS memang mengalami tahun yang baik, namun belum secara meyakinkan mengalahkan pesaingnya, bahkan di sektor teknologi," kata Sebastian Boyd, Strategi Makro di Markets Live.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa ia telah mengantongi kandidat favorit untuk gubernur Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berikutnya, meski ia tidak terburu-buru melakukan pengumuman. Trump juga sempat melontarkan wacana untuk memecat pemimpin bank sentral saat ini, Jerome Powell.
Investor juga tengah menakar prospek suku bunga AS dan kebijakan moneter. Sebagian besar ahli strategi suku bunga di Wall Street memperkirakan imbal hasil (yield) obligasi AS (Treasury) akan stabil atau bahkan lebih tinggi pada 2026, meskipun terdapat potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Dari pasar lainnya, Bitcoin bergerak melemah pada Selasa (30/12) pagi. Mata uang kripto ini sempat menembus US$90.000 pada sesi sebelumnya sebelum akhirnya kembali terkoreksi. Indeks dolar AS terpantau stabil, sementara imbal hasil Treasury 10-tahun turun tipis ke level 4,11%.
Harga minyak dunia merangkak naik menyusul kebuntuan negosiasi mengenai Ukraina yang dipimpin AS, serta komitmen China untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tahun depan. Meski demikian, minyak mentah jenis Brent masih berada dalam jalur penurunan bulanan kelima berturut-turut pada Desember ini, yang akan menjadi tren penurunan terpanjang dalam lebih dari dua tahun terakhir.

