

Market Analysis
Harga Minyak Memanas, Efek Trump Ancam Sanksi Rusia dan Blokade Venezuela

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia menguat tipis seiring dengan sikap pelaku pasar yang mencermati potensi sanksi tambahan Amerika Serikat (AS) terhadap Rusia serta risiko gangguan pasokan akibat pemblokiran kapal tanker minyak Venezuela.
Melansir Reuters pada Jumat (19/12/2025), harga minyak mentah jenis Brent naik 36 sen atau 0,6% ke level US$60,04 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 52 sen atau 0,9% ke posisi US$56,46 per barel.
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial Dennis Kissler mengatakan, kontrak berjangka minyak mentah mulai mencari titik penopang dari kebijakan pemblokiran ekspor minyak Venezuela. Jika kebijakan tersebut berlanjut, produksi minyak di kawasan tersebut berpotensi terhenti karena tidak memiliki tujuan pengiriman.
“Kontrak berjangka minyak mentah mencoba mendapatkan dukungan dari pemblokiran ekspor minyak Venezuela, yang jika berlanjut kemungkinan akan memaksa produksi di wilayah itu dihentikan karena tidak ada tujuan pengapalan,” ujar Kissler.
Sebelumnya, pemerintah AS dilaporkan tengah menyiapkan putaran baru sanksi terhadap sektor energi Rusia jika Moskow tidak menyepakati perjanjian damai dengan Ukraina. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum mengambil keputusan terkait sanksi terhadap Rusia.
“Jika tidak tercapai kesepakatan damai Rusia–Ukraina, serangan terhadap Rusia bisa meningkat dan dengan cepat memperketat pasokan. Ditambah lagi dengan pemblokiran minyak Venezuela, harga minyak saat ini berpotensi masih berada di bawah nilai wajarnya,” kata Kissler.
Analis ING dalam catatannya menilai langkah lanjutan yang menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko pasokan yang lebih besar bagi pasar dibandingkan pengumuman Presiden Trump pada Selasa lalu mengenai pemblokiran kapal tanker yang masuk dan keluar Venezuela.
Di sisi lain, Inggris menjatuhkan sanksi kepada 24 individu dan entitas sebagai bagian dari rezim sanksi terhadap Rusia, termasuk perusahaan minyak Rusia Tatneft dan Russneft, sebagaimana tercantum dalam pemberitahuan resmi pemerintah Inggris pada Kamis.
ING memperkirakan pemblokiran Venezuela dapat memengaruhi sekitar 600.000 barel per hari (bph) ekspor minyak negara tersebut, yang sebagian besar dikirim ke China. Namun, sekitar 160.000 bph ekspor ke AS diperkirakan tetap berlanjut. Kapal-kapal milik Chevron masih terus berangkat menuju AS berdasarkan otorisasi sebelumnya dari pemerintah AS.
Adapun, mekanisme penegakan pemblokiran oleh AS masih belum jelas. Pekan lalu, Penjaga Pantai AS mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menyita sebuah kapal tanker minyak Venezuela. Sejumlah sumber menyebutkan AS tengah bersiap melakukan intersepsi serupa terhadap kapal lain.
Minyak mentah Venezuela menyumbang sekitar 1% dari total pasokan minyak global.
Sementara itu, analis Bank of America memperkirakan harga minyak yang lebih rendah akan menekan pasokan. Jika harga WTI rata-rata berada di level US$57 per barel pada 2026, sesuai proyeksi mereka, produksi minyak serpih AS berpotensi menyusut sekitar 70.000 barel per hari.

