

Market Analysis
Harga Emas Dunia Jatuh -4,26% ke Level US$4.171 per Troy Ounce

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan Selasa (21/10/2025) pagi pukul 10.01 waktu Amerika Serikat atau Selasa malam pukul 21.01 WIB di Tanah Air di pasar spot. Berdasarkan data Bloomberg, harga spot emas (XAU:CUR) tercatat di posisi US$4.171,77 per troy ounce, melemah 4,26% atau setara penurunan US$184,53 dibandingkan penutupan sebelumnya.
Bloomberg melaporkan penurunan ini menjadi yang terdalam dalam 4 tahun terakhir. Setelah reli panjang selama berminggu-minggu yang sempat mendorong harga ke rekor tertinggi, pasar logam mulia kini memasuki fase koreksi teknikal.
“Emas merosot paling dalam dalam 4 tahun, setelah naik selama berminggu-minggu dalam reli cepat yang telah meregangkan indikator teknis,” tertulis dalam laporan.
Harga emas batangan sebelumnya mencapai rekot tertinggi sepanjang massa pada level US$4.381,52 per ons pada Senin. Reli cepat tersebut mendorong indikator kekuatan relatif (relative strength index/RSI) menunjukkan kondisi overbought atau jenuh beli.
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS, yang membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri. Di sisi lain, permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven melemah menjelang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pekan depan. Pertemuan itu diharapkan dapat meredakan ketegangan perdagangan kedua negara.
Selain itu, berakhirnya musim pembelian emas di India turut menekan permintaan global. “Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, para pedagang semakin waspada, karena kekhawatiran akan koreksi dan konsolidasi telah muncul,” kata Ole Hansen, ahli strategi komoditas di Saxo Bank AS. “Saat koreksi, kekuatan pasar yang sebenarnya terungkap, dan kali ini seharusnya tidak berbeda, dengan tawaran beli yang mendasarinya kemungkinan akan membatasi pullback.”
Pasar komoditas saat ini juga menghadapi tantangan tambahan akibat penutupan sebagian pemerintahan AS, yang menyebabkan tertundanya laporan mingguan dari Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (Commodity Futures Trading Commission/CFTC). Laporan tersebut biasanya memberikan gambaran posisi dana lindung nilai dan manajer investasi dalam kontrak berjangka emas dan perak.
Tanpa data itu, aktivitas spekulatif berpotensi meningkat. “Tidak adanya data posisi datang di saat yang sensitif, dengan potensi peningkatan eksposur spekulatif jangka panjang pada kedua logam tersebut yang membuat keduanya lebih rentan terhadap koreksi,” ujar Hansen.
Volatilitas di pasar emas meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Volume perdagangan opsi pada dana investasi berbasis emas terbesar di dunia bahkan mencapai rekor baru, dengan lebih dari dua juta kontrak berpindah tangan hanya dalam dua hari perdagangan pekan lalu. Kondisi ini menunjukkan para pelaku pasar tengah bersiap menghadapi potensi penurunan harga lebih lanjut atau mengambil keuntungan dari volatilitas yang tinggi.

Tatiana Darie, ahli strategi makro dari Bloomberg menilai reli harga emas yang kuat kemungkinan mulai kehilangan momentumnya.
“Saat ini, kepemilikan emas ETF secara absolut belum mencapai puncaknya di masa lalu, dan reli seringkali berlangsung lebih lama. Namun, sejarah menunjukkan bahwa momentum pada akhirnya memudar dan dalam kebanyakan kasus, aksi beli berubah menjadi aksi jual. Jika data yang tertunda akhirnya menunjukkan ekonomi AS yang lebih kuat dari yang diantisipasi, penurunan emas yang lebih besar mungkin tidak akan lama lagi,” ujarnya.
Tidak hanya emas, harga perak juga ikut tertekan setelah melonjak hampir 80% sepanjang tahun ini. Kenaikan sebelumnya didorong oleh faktor makroekonomi yang sama seperti emas serta tekanan struktural di pasar London. Selisih harga antara pasar acuan dan kontrak berjangka New York mendorong pedagang mengalihkan pasokan ke London untuk menstabilkan pasar.

