

Market Analysis
Harga Emas Anjlok Rp128.000 per Gram Imbas Profit Taking, Terdalam Sejak 2020

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas anjlok tajam dan mencatat penurunan harian terbesar dalam lima tahun akibat aksi ambil untung investor setelah reli ke rekor tertinggi sehari sebelumnya.
Melansir Reuters pada Rabu (22/10/2025), harga emas di pasar spot anjlok 5,5% ke posisi US$4.115,26 per troy ounce, menandai penurunan harian terbesar sejak Agustus 2020. Dalam rupiah, harga emas anjlok sekitar Rp128.282 per gram ke Rp2,18 juta per gram.
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember merosot 5,7% ke level US$4.109,10 per troy ounce.
Sehari sebelumnya, harga emas sempat menyentuh rekor sepanjang masa di level US$4.381,21 dan secara kumulatif telah menguat sekitar 60% sepanjang tahun ini, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, ekspektasi pemangkasan suku bunga, serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral dunia.
“Penurunan harga emas masih terus dimanfaatkan untuk aksi beli hingga kemarin, tetapi lonjakan volatilitas yang tajam dalam sepekan terakhir menjadi sinyal kehati-hatian dan mendorong aksi ambil untung jangka pendek,” ujar Tai Wong, analis logam independen.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,4%, membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
“Peningkatan selera risiko di pasar global pada awal pekan ini menjadi faktor bearish bagi aset aman seperti emas,” tulis Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, dalam catatannya.
Analis Citi memperkirakan berakhirnya shutdown pemerintahan AS dan potensi pengumuman kesepakatan dagang antara AS dan China dapat membuat harga emas bergerak konsolidatif dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Selain emas, harga spot silver juga merosot tajam 7,6% ke posisi US$48,49 per troy ounce. Wong mengatakan, performa perak sangat buruk hari ini dan menyeret seluruh harga logam mulia ke bawah.
“Tampaknya ada batas atas jangka pendek di sekitar US$54, dan selama harga berada di bawah US$50, perak cenderung bergerak sideways dengan volatilitas tinggi selama emas tetap relatif kuat," ujarnya.
Di sisi lain, harga platinum turun 5,9% ke level US$1.541,85, sementara palladium melemah 5,3% ke posisi US$1.417,25 per troy ounce.
Para pelaku pasar kini menanti rilis data consumer price index (CPI) AS untuk September yang sempat tertunda akibat shutdown pemerintahan. Data inflasi tersebut diperkirakan naik 3,1% secara tahunan.
Pasar juga memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan minggu depan.
