

Market Analysis
Masih Lanjut Bullish Harga Emas & Perak, Ini Faktor Pendorongnya

Bisnis.com, JAKARTA – Duo logam mulia emas dan perak lanjut melaju di jalur bullish lagi. Analis menilai, kedua aset safe haven tersebut terdorong lantaran ketakutan investor terhadap ketidakpastian moneter global dan aksi geopolitik.
Berdasarkan data Trading Economics pukul 12.00 WIB, harga perak tengah melaju di level US$53,18 per troy ounce.
Dengan kata lain, penguatan harga perak telah terjadi sebesar 80,12% sepanjang tahun berjalan 2025 (year to date / YtD).
Hal serupa juga terjadi pada emas, yang kini telah mencatatkan harga baru di level US$4.165,97 per troy ounce atau telah melaju 56,77% YtD.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menerangkan bahwa kenaikan harga emas dan perak yang terjadi sepanjang 2025 lebih disebabkan oleh ketidakpastian yang terjadi secara global. Hal itu yang mendorong investor untuk mengalihkan dana investasinya kepada aset safe haven.
Sutopo menilai, salah satu faktor penguat laju kedua logam tersebut adalah kekhawatiran investor terhadap devaluasi mata uang.
Menurutnya, terdapat kekhawatiran di kalangan investor ihwal defisit fiskal nasional yang pada gilirannya mengikis nilai aset keuangan. Selain itu, investor juga tengah mengantisipasi potensi perubahan tatanan moneter global.
Tidak hanya itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed juga dinilai menjadi pendorong laju kedua aset investasi tersebut.
“Proyeksi dua penurunan suku bunga tambahan pada 2025, secara fundamental memberikan dukungan jangka menengah dan panjang bagi harga kedua logam mulia tersebut,” katanya kepada Bisnis, dikutip Selasa (14/10/2025).
Terakhir, ketegangan geopolitik dan ketidakstabilan politik yang meluas, menjadi alasan lainnya para investor memilih logam mulia sebagai aset investasi mereka.
Sutopo memaparkan beberapa ketidakstabilan geopolitik antara lain shutdown pemerintah AS hingga penerapan tarif dagang 100% oleh AS kepada China memberikan ketakutan bagi investor terhadap stabilitas ekonomi global.
Terhadap laju perak belakangan, Sutopo menilai bahwa penguatannya tidak hanya disebabkan oleh sentimen makroekonomi. Melainkan, turut didorong oleh pasokan fisik perak batangan yang terbatas. Hal itu tampak dari melonjaknya suku bunga sewa perak di London sebesar 34,98%.
“Kondisi ini menciptakan dislokasi yang jarang terjadi, di mana harga spot melonjak tinggi, tetapi harga berjangka tertinggal. Hal ini menunjukkan kelangkaan fisik yang akut,” terang Sutopo.
Sementara itu, pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, salah satu sentimen penguat harga emas dunia dinilai datang dari aksi shutdown pemerintahan AS.
Menurut Ibrahim, aksi tersebut berpotensi menimbulkan gejolak di pasar kerja AS, yang nantinya diprediksi bakal meningkatkan pengangguran di Negeri Paman Sam itu. Alhasil, keputusan The Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuan di AS dinilai tidak terelakkan.
Selain itu, aksi Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan tarif impor 100% terhadap China juga dinilai bakal meningkatkan harga barang China di AS. Hal itu mengindikasikan tensi perang dagang dunia masih akan berlanjut ke depannya.
Hal lain yang disoroti oleh pasar adalah ihwal independensi The Fed di bawah pemerintahan Trump. Terlebih, pada Agustus lalu, Trump melakukan pemecatan terhadap pejabat The Fed Lisa Cook.
“Harga emas US$4.150 sudah tercapai, kini harga emas siap menuju US$4.188 dan US$4.200 hanya dalam hitungan hari. Minggu ini, level US$4.150 segera tercapai,” katanya singkat, Selasa (14/10/2025).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

