English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Dolar Lesu, Depresiasi Rupiah Menyusut

Bloomberg Technoz · 44K Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah. Namun depresiasi rupiah mulai melandai, tidak lagi di atas 1%.

Pada Selasa (9/9/2025) pukul 12:07 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 16.429 di perdagangan pasar spot. Rupiah terdepresiasi 0,76% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Mata uang Tanah Air memang masih lesu. Namun depresiasinya menipis, karena pagi tadi sempat melemah lebih dari 1%.

USD/IDR (Sumber: Bloomberg)

Salah satu faktor yang membantu meredam pelemahan rupiah adalah kelesuan dolar AS. Pada pukul 13:26 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terpangkas 0,13% ke 97,326.

Dalam sepekan terakhir. indeks ini berkurang 1,1% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, koreksinya mencapai 1,23%.

Dollar Index (Sumber: Bloomberg)

Pelemahan dolar AS disebabkan oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve. Mengutip CME FedWatch, kemungkinan Federal Funds Rate diturunkan 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat September adalah 89,4%. 

Sementara peluang pemangkasan 50 bps ke 3,75-4% adalah 10,6%. Tidak ada probabilitas yang menunjukkan suku bunga acuan bakal bertahan di 4,25-4,5%.

Keyakinan investor makin kuat dengan rilis data ketenagakerjaan terbaru. Akhir pekan lalu, US Bureau of Labor Statistics mengumumkan perekonomian Negeri Adikuasa menciptakan 22.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) pada Agustus. Jauh di bawah bulan sebelumnya yang sebanyak 79.000.

Sementara tingkat pengangguran pada Agustus tercatat 4,2%. Ini menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2021 atau hampir 4 tahun terakhir.

Data ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS melambat signifikan. Artinya, kebutuhan akan stimulus moneter membesar.

Saat suku bunga turun, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) menjadi kurang menguntungkan. Ini membuat dolar AS mengalami tekanan jual.