English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Emas Hari Ini Capai Rekor Tertinggi Baru, Analis Ungkap Prospek ke Depan

Bisnis · 600.8K Views

Bisnis.com, JAKARTA -  Harga emas hari ini kembali melonjak memecahkan rekor tertinggi di tengah kekhawatiran masa depan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) dan prospek pemotongan suku bunga oleh lembaga yang kini dipimpin oleh Jerome Powell itu.

Bloomberg melaporkan harga emas batangan terus memecahkan rekor tertinggi dengan posisi mendekati $3.516 per ons dan terus mendaki hingga US$3.552 per troy ounce pada perdagangan hari ini. Meski demikian, harga emas hari ini, Selasa (2/9/2025) pada pukul 23.17 WIB mencari keseimbangan baru dan bertengger pada level US$3.521,91.

Harga emas sendiri telah melonjak lebih dari 30% tahun ini, menjadikannya salah satu komoditas utama dengan kinerja terbaik.

Laju harga emas hari ini, didorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menurunkan suku bunga bulan ini, setelah Ketua The Fed, Jerome Powell, dengan hati-hati membuka peluang untuk penurunan suku bunga.

Laporan ketenagakerjaan AS yang penting pada Jumat lusa kemungkinan akan memperkuat indikasi pasar tenaga kerja yang semakin lesu sehingga memperkuat argumen bank sentral untuk penurunan suku bunga. Ekonomi yang melemah membutuhkan suntikan likuiditas yang salah satunya diberikan melalui pengurangan beban utang yang tercermin dari penurunan suku bunga.

Meski demikian, secara alami penurunan suku bunga akan membuat emas dicari karena logam mulia kuning berkilau itu diyakini menjadi lindung nilai.

"Investor yang menambah alokasi emas, terutama karena adanya pemangkasan suku bunga The Fed, mendorong harga lebih tinggi," ujar Joni Teves, ahli strategi UBS Group AG.

Dia meramal harga emas akan terus mendaki mencapai titik tertinggi baru dalam beberapa kuartal mendatang. "Kondisi suku bunga yang lebih rendah, data ekonomi yang lebih lemah, serta ketidakpastian makro dan risiko geopolitik yang terus meningkat, mendorong peran emas sebagai diversifikasi portofolio," katanya.

Pasar kini menunggu putusan penting mengenai apakah Trump memiliki dasar yang sah untuk mencopot Gubernur The Fed Lisa Cook dari jabatannya di bank sentral. Jika dianggap sah, langkah tersebut akan memungkinkan presiden untuk menggantinya dengan pejabat yang cenderung dovish.

Secara terpisah, pengadilan banding federal pada akhir pekan lalu menyatakan tarif global Trump diberlakukan secara ilegal berdasarkan undang-undang darurat, yang meningkatkan ketidakpastian bagi para importir Amerika sekaligus berpotensi menunda dividen ekonomi yang dijanjikan oleh pemerintah.

"Terakhir kali emas mencapai $3.500 adalah saat perdagangan intraday, jadi kami sangat ingin melihat apakah emas berhasil menutup perdagangan harian di atas level tersebut karena hal itu dapat memberikan momentum," kata Christopher Wong, ahli strategi mata uang Oversea-Chinese Banking Corp, merujuk pada puncak harga logam mulia di bulan April. 

Meski emas memberikan kenaikan harga yang solid, pesaing terdekatnya yakni perak ternyata jauh lebih unggul. Logam putih ini telah naik sekitar 40% sepanjang tahun ini, dengan harga menembus US$40 per ons untuk pertama kalinya sejak 2011 pada perdagangan kemarin. Perak diburu karena banyak digunakan untuk proyek energi bersih seperti panel surya. 

Melemahnya dolar AS juga telah meningkatkan daya beli di negara-negara konsumen utama seperti China dan India.

Para investor telah berbondong-bondong masuk ke ETF berbasis perak, dengan kepemilikan meningkat selama tujuh bulan berturut-turut di bulan Agustus. Hal ini telah mengurangi persediaan logam mulia yang tersedia secara bebas di London, yang menyebabkan ketatnya pasar secara terus-menerus.