

Market Analysis
Respons Laporan S&P Global, Kemenkeu Waspadai Risiko Eksternal

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Keuangan turut merespons rilis laporan terbaru S&P Global Ratings ihwal prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini yang diproyeksi tak sampai 5% seiring dengan masih adanya risiko eksternal.
Dalam pernyataan resminya, otoritas keuangan negara bersama Bank Indonesia memastikan akan terus mewaspadai segala dinamika global tersebut.
"Pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus waspada terhadap dinamika dan risiko eksternal, seperti yang telah berhasil dilalui pada tahun-tahun sebelumnya," tulis Kemenkeu melalui laman resminya, Rabu (30/7/2025).
Pemerintah, kata mereka, menyebut aman tetap memprioritaskan dan fokus pada pengendalian inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta "mempertahankan momentum pemulihan ekonomi nasional yang solid."
Berdasarkan laporan terbarunya yang dirilis Selasa (29/72025), S&P sebelumnya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sampai menyentuh 5% sepanjang 2025, melanjutkan kinerja yang sebelumnya diperoleh pada kuartal pertama lalu, yakni 4,87%.
Proyeksi tersebut dilakukan lantaran indikator ekonomi dalam negeri terbilang masih lesu, seperti kurangnya belanja infrastruktur hingga konsumsi rumah tangga.
"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB [produk domestik bruto] riil Indonesia sedikit di bawah 5% tahun ini karena permintaan domestik menunjukkan tanda-tanda melemah di awal tahun," tulis laporan tersebut.
Pasalnya, lanjut laporan itu, belanja infrastruktur memiliki pengganda fiskal yang tinggi bagi pertumbuhan, dan sekaligus "membantu meringankan kendala pasokan dan hambatan infrastruktur."
Rata-rata pendapatan dalam negeri juga lebih rendah dibandingkan sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya, alih-alih diproyeksikan akan tetap meningkat lebih cepat dari sejumlah program prioritas seperti makan bergizi gratis (MBG) dan program tiga juta rumah.
Namun, mereka juga turut memperhitungkan keberadaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang akan melakukan sebagian besar pengeluaran infrastruktur, bersama dengan sejumlah proyek kemitraan dengan swasta.
"Danantara akan mengisi sebagian kekurangan belanja infrastruktur. Meskipun demikian, masih mungkin ada dampak terhadap pertumbuhan, terutama untuk tahun 2025," lanjut laporan itu.
"Program-program sosial utama yang dijalankan pemerintah, termasuk program makanan bergizi gratis dan tiga juta rumah, diharapkan mulai memperbaiki kondisi ekonomi yang mendasarinya."
S&P memperkirakan PDB per kapita Indonesia tahun ini bisa mencapai US$5.000, naik dari US$4.900 pada 2024, yang turut memperhitungkan depresiasi rupiah tahun ini dari level Rp16.162/US$ menjadi Rp16.300/US$.
Mereka juga mempertahankan peringkat kredit alias Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia pada level BBB, atau lebih tinggi satu tingkat di atas level terendah investment grade dengan outlook stabil.

