

Market Analysis
Iran-Israel Memanas, Rupiah Diramal Jadi Rp16.400/US$ Akhir 2025

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp16.100/US$ hingga Rp16.400/US$ pada akhir 2025, di tengah memanasnya ketegangan geopolitik Iran dan Israel.
Level itu melemah dibandingkan dengan rupiah dalam asumsi dasar makro yang ditetapkan sebesar Rp16.000/US$ dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2025.
Josua menggarisbawahi eskalasi konflik ini telah menimbulkan lonjakan harga minyak global akibat meningkatnya premi risiko geopolitik, yang sempat mendorong harga minyak jenis WTI hingga berpotensi melampaui level US$100 per barel.
Secara historis, lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik cenderung bersifat sementara, tetapi dampak jangka pendeknya terhadap negara-negara yang mengimpor minyak seperti Indonesia bisa cukup signifikan.
“Konflik Iran-Israel yang tengah memanas berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap nilai tukar rupiah, khususnya di pertengahan hingga akhir tahun 2025,” ujar Josua kepada Bloomberg Technoz, dikutip Selasa (17/6/2025).
Indonesia, sebagai negara importir minyak, berisiko mengalami tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD), terutama jika harga minyak tinggi bertahan lama. Kondisi ini berpotensi melemahkan rupiah dalam jangka pendek, karena peningkatan harga minyak akan memperbesar biaya impor migas yang harus dibayar dengan dolar AS.
Hal ini sudah terlihat pada periode awal eskalasi konflik, di mana rupiah melemah moderat sebesar 0,37% ke level Rp16.295/US$, seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Namun, proyeksi jangka menengah hingga akhir tahun menunjukkan potensi stabilisasi kondisi. Josua memperkirakan harga minyak akan mengalami normalisasi ke level US$65–70 per barel pada akhir tahun, dengan asumsi konflik tidak berkembang menjadi lebih luas, dan Iran tidak melakukan tindakan drastis seperti menutup Selat Hormuz secara total. Jika proyeksi ini terwujud, dampak negatif pada defisit transaksi berjalan Indonesia relatif terkendali, sehingga depresiasi rupiah dapat dibatasi.
Dari sudut pandang kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih memiliki ruang gerak untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% pada paruh kedua tahun ini. Hal ini didukung ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau the Fed juga masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebesar total 50 basis poin hingga akhir tahun, memberikan potensi aliran modal masuk yang akan membantu stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Dengan demikian, meski konflik Iran-Israel menambah volatilitas pasar jangka pendek dan meningkatkan tekanan terhadap rupiah pada pertengahan tahun, outlook hingga akhir tahun relatif kondusif,” ujarnya.

