

Market Analysis
Harga Emas Melesat Kemarin, Simak Prediksi Buat Hari Ini

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga emas dunia melesat pada perdagangan kemarin. Lantas bagaimana prediksi harga sang logam mulia buat hari ini?
Pada Selasa (11/3/2025), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$ 2.917,4/troy ons. Melonjak 1,14% dibandingkan hari sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, harga emas kini sudah membukukan kenaikan tipis 0,1% secara point-to-point. Selama sebulan ke belakang, harga juga naik 0,39%.
Jadi bagaimana dengan ‘ramalan’ harga emas untuk hari ini? Apakah bisa naik lagi atau justru terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas nyaman di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 57,96. RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Akan tetapi, investor tetap perlu waspada karena indikator Stochastic RSI ada di 35,39. Menghuni area jual (short).
Oleh karena itu, ada kemungkinan harga emas akan lemas. Sepertinya harga akan menguji support terdekat di US$ 2.908/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5. Jika tertembus, maka MA-10 di US$ 2.900/troy ons bisa menjadi target selanjutnya.
Sementara target resisten terdekat adalah US$ 2.918/troy ons. Penembusan di titik ini berpotensi mengantar harga emas menuju US$ 2.933/troy ons.
Penyebab Kenaikan Harga Emas
Lesatan harga emas pada perdagangan kemarin lagi-lagi disebabkan oleh perkembangan di Amerika Serikat (AS). Presiden Donald Trump terus mengobarkan bara perang dagang.
Kali ini sasarannya adalah negara tetangga, Kanada. Trump mengancam bakal menaikkan tarif bea masuk bagi impor baja dan aluminium asal Kanada menjadi 50%. Ini dilakukan karena Kanada menerapkan pungutan (levy) terhadap listrik yang dikirim ke Negeri Paman Sam.
Perang dagang semacam ini (apalagi kalau melibatkan lebih banyak negara) akan mempengaruhi arus perdagangan dunia. Pada akhirnya, laju pertumbuhan ekonomi akan tertahan.
Bahkan ada kekhawatiran AS akan terjebak dalam stagflasi. Artinya, laju inflasi berisiko terakselerasi tetapi tidak dengan pertumbuhan ekonomi.
Apabila ini terjadi, maka bank sentral Federal Reserve tentu tidak akan tinggal diam. Pelonggaran moneter dengan penurunan suku bunga acuan bisa dilakukan beberapa kali tahun ini.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan lebih menguntungkan saat suku bunga turun.
“Pembahasan soal resesi yang makin intens membuat suku bunga dan kurs dolar AS melemah. Ini akan menjadi skenario yang konstruktif bagi harga emas pada paruh kedua tahun ini,” tegas Stephen Jury, Global Commodity Strategist di JPMorgan Private Bank, seperti diberitakan Bloomberg News.

