English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

The Fed Tahan Suku Bunga, Analis: Rupiah Sulit Kembali ke Bawah Rp 18.000 Per Dollar AS

Kompas · 1 Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dinilai sulit kembali menguat di bawah level Rp 18.000 per dollar AS dalam waktu dekat.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, keputusan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen hingga 4 persen belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah.

The Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (28/10/2026) waktu setempat.

"Rupiah sulit kembali ke bawah Rp 18.000 dalam waktu dekat," kata Yusuf kepada Kompas.com, Rabu (28/10/2026).

Namun, Yusuf mengatakan penguatan rupiah di bawah Rp 18.000 dapat terjadi apabila The Fed memberikan sinyal pelonggaran kebijakan lebih lama dan turunnya harga minyak dunia.

"Kecuali The Fed memberikan sinyal yang lebih lunak dan harga minyak turun secara bersamaan," ucapnya.

Menurut Yusuf, rupiah masih berpotensi melemah, meskipun pergerakannya diperkirakan terbatas karena pelaku pasar sudah mengambil posisi defensif.

Dalam perkiraannya, rupiah bergerak pada kisaran Rp 18.120 hingga Rp 18.250 per dollar AS pada hari ini.

"Dalam skenario dasar, saya melihat rupiah bergerak di kisaran Rp18.120 sampai Rp18.250 per dollar AS," ujarnya.

Dari sisi teknikal, Yusuf menjelaskan, level Rp 18.250 menjadi batas pelemahan pertama yang perlu dicermati.

Jika level tersebut ditembus setelah The Fed menyampaikan pernyataan yang lebih hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneternya, rupiah berisiko melemah lebih jauh ke kisaran Rp 18.300 hingga Rp 18.350 per dollar AS.

"Sebaliknya, batas penguatan terdekat berada di Rp18.100, kemudian Rp18.000 sebagai level psikologis," jelasnya.

Yusuf menilai, keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebenarnya tidak terlalu mengejutkan karena pasar hampir sepenuhnya memperkirakan bank sentral AS tersebut akan menahan suku bunga.

Dengan demikian, perhatian investor lebih tertuju pada konferensi pers dan sinyal arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.

"Fokus investor justru tertuju pada konferensi pers dan sinyal kebijakan berikutnya," ucapnya.