

Market Analysis
Harga Minyak Turun Usai Reli Pekan Lalu, Brent ke US$ 114,51 & WTI ke US$ 101,04

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah melonjak mendekati level tertinggi dalam enam bulan pada pekan lalu.
Harapan meredanya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menekan harga minyak, meski serangan terhadap Arab Saudi masih memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 2,23 atau 2,16% menjadi US$ 101,04 per barel pada pukul 04.26 GMT. Sementara itu, minyak mentah Brent melemah US$ 2,21 atau 1,89% ke level US$ 114,51 per barel.
Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), harga minyak ditutup menguat hampir US$ 3 per barel setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi. Secara mingguan, harga Brent naik 6%, sedangkan WTI menguat 2,3%.
Sentimen pasar mulai berubah setelah mediator Qatar bertolak ke Teheran pada Minggu untuk mengupayakan deeskalasi ketegangan regional melalui koordinasi dengan AS.
Pendiri penyedia analisis pasar minyak Vanda Insights Vandana Hari mengatakan, kekhawatiran terhadap kemungkinan berlanjutnya aksi militer di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak pekan lalu, mulai mereda.
Namun, menurut dia, situasi tersebut belum tentu bertahan lama. Presiden AS Donald Trump juga belum menghilangkan ekspektasi pasar bahwa serangan terhadap Iran masih dapat terjadi setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
"Kami memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi, dengan risiko yang masih cenderung mengarah pada kenaikan harga," kata Hari.
Kekhawatiran pasokan tetap membayangi pasar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi pada Sabtu. Pemerintah Arab Saudi menyatakan telah mencegat lebih banyak rudal dan pesawat nirawak pada Minggu.
Perang AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari juga masih berdampak terhadap rantai pasok energi global.
Perusahaan-perusahaan harus menyesuaikan operasional di tengah gangguan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Kedua jalur tersebut merupakan bagian penting dari perdagangan energi global. Gangguan berkepanjangan berpotensi memperketat pasokan minyak dan meningkatkan biaya pengiriman.
Di tengah risiko tersebut, Menteri Energi Arab Saudi dan Singapura pada Senin menyampaikan bahwa perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco, akan mulai menyimpan minyak mentah di Singapura pada paruh kedua 2027.
Langkah ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan rantai pasok Aramco di kawasan tersebut.
Kepala Market Insight Phillip Nova Priyanka Sachdeva menilai, penurunan harga minyak saat ini belum mencerminkan perbaikan mendasar pada kondisi pasokan.
Menurut dia, risiko gangguan pasokan di sekitar Selat Hormuz masih kuat. Pelemahan harga lebih mencerminkan penyesuaian posisi investor dan pengelolaan risiko setelah reli harga sebelumnya.
Kekhawatiran terhadap prospek energi juga disampaikan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol. Dalam sebuah acara industri di Singapura pada Senin, Birol mengatakan dirinya tidak memperkirakan pasar energi pada 2027 akan kembali ke kondisi sebelum perang Iran.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa dampak konflik terhadap pasokan dan distribusi energi global berpotensi berlangsung lebih lama, meskipun harga minyak mengalami koreksi dalam jangka pendek.

