

Market Analysis
Indeks Dolar AS Berpotensi ke 104, Investor Lirik Franc Swiss & Dolar Singapura

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY berpeluang melanjutkan penguatan hingga akhir 2026. Hal tersebut terjadi di tengah tekanan inflasi AS yang berpotensi membuat Federal Reserve (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Asal tahu saja, rilis indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS pada September 2026 naik 1,3% secara bulanan (MoM) dan 6,3% secara tahunan (YoY), melampaui perkiraan pasar. Kenaikan ini menandai level tertinggi sejak Maret 2022 dan berpotensi memperkuat tekanan inflasi serta membatasi ruang pelonggaran suku bunga The Fed.
Namun, indeks dolar AS pada Jumat (16/10/2026) bertengger di level 101.8 atau melemah 0,7% secara harian dan 0,37% sepekan terakhir, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan di 102,94.
Meski demikian, Analis mata uang dan founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, peluang penguatan DXY hingga akhir tahun mencapai 65%-70%. Prospek tersebut juga ditopang oleh pertumbuhan ekonomi AS yang dinilai lebih tangguh dibandingkan kawasan Eropa dan Asia.
Dari sisi teknikal, DXY berpeluang berkonsolidasi di kisaran 101,80-102,20. Area tersebut berpotensi menjadi level penopang atau support baru bagi pergerakan indeks dolar.
Wahyu memperkirakan, apabila imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun bertahan di atas 5%, DXY berpotensi menguji kembali level tertinggi dalam 52 pekan di kisaran 102,94-103,34 hingga akhir 2026.
“Jika berhasil menembus area resistansi tersebut, DXY berpeluang melanjutkan penguatan menuju kisaran 103,80-104,50,” jelas Wahyu kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).
Lebih lanjut, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury berpotensi menekan sejumlah mata uang global. Wahyu bilang, yen Jepang menjadi salah satu mata uang negara maju yang paling rentan terhadap penguatan dolar AS.
Selain yen, euro dan poundsterling juga berpotensi tertekan. Wahyu bilang, stagnasi pertumbuhan ekonomi di Eropa dan Inggris dapat mendorong bank sentral masing-masing, yakni European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE), mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter untuk menopang aktivitas ekonomi.
Tekanan juga mengintai mata uang negara berkembang yang memiliki defisit eksternal dan rentan terhadap arus keluar modal. Wahyu menyoroti rupiah, peso Filipina, rand Afrika Selatan, dan lira Turki.
Di tengah prospek penguatan DXY, Wahyu mengatakan dolar AS masih layak menjadi bagian utama portofolio untuk kebutuhan lindung nilai (hedging). Namun, investor perlu berhati-hati dalam mengejar kenaikan dolar karena indeks tersebut sudah mendekati level tertinggi dalam setahun.
Untuk diversifikasi portofolio, Wahyu menyoroti franc Swiss (CHF), dolar Singapura (SGD), dan yuan China (CNY).
Franc Swiss dinilai berpotensi menjadi pelindung portofolio di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sementara itu, dolar Singapura ditopang kebijakan nilai tukar Otoritas Moneter Singapura (MAS) yang diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi impor.
Adapun yuan China dapat menjadi alternatif diversifikasi di luar dolar AS, dengan tetap memperhatikan kebijakan bank sentral China atau People's Bank of China (PBOC) dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Wahyu memperkirakan sejumlah pasangan mata uang global bergerak dalam rentang berikut hingga akhir 2026: USD/JPY: 155,00-163,00; USD/SGD: 1,2750-1,3050; USD/CNY: 6,6800-6,8500; dan USD/CHF: 0,8400–0,8600.

