

Market Analysis
Bursa Asia Kompak Melemah, Kospi Ambles 3,29%

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026), dengan penurunan terdalam terjadi di Korea Selatan. Pelemahan tersebut terjadi saat investor bersiap mencermati laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar Amerika Serikat (AS) serta sejumlah data ekonomi penting pekan ini.
Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,20%, sementara indeks Topix bergerak datar. Di Korea Selatan, indeks Kospi merosot 3,29% pada pembukaan perdagangan, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq terkoreksi 2,49%.
Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 melemah 0,33%. Pergerakan bursa Asia terjadi menjelang rilis laporan keuangan sejumlah bank besar AS yang berpotensi memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan memengaruhi sentimen pasar global.
JPMorgan, Goldman Sachs, Citigroup, dan Wells Fargo dijadwalkan merilis laporan keuangan sebelum pembukaan pasar AS pada Selasa waktu setempat. Selain itu, perusahaan asuransi kesehatan UnitedHealth yang merupakan anggota indeks Dow Jones juga akan menyampaikan hasil kinerjanya.
Laporan keuangan awal tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah musim laporan keuangan kuartal ini, di tengah ekspektasi pasar yang tinggi. Berdasarkan data FactSet, analis rata-rata memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh hampir 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Strategi Pasar Ameriprise Anthony Saglimbene mengatakan terdapat tiga kelompok industri yang kemungkinan akan memengaruhi cara investor menilai musim laporan keuangan kali ini. Ketiganya adalah perbankan untuk mengukur kesehatan konsumen dan dunia usaha, perusahaan teknologi besar untuk melihat monetisasi kecerdasan buatan (AI), serta sektor energi untuk menilai keberlanjutan keuntungan yang ditopang harga minyak.
Menurut Saglimbene, investor juga akan memantau kondisi konsumen dan perusahaan di tengah suku bunga yang lebih tinggi, biaya yang meningkat, serta kekhawatiran terhadap prospek ekonomi makro. Faktor-faktor tersebut diperkirakan menjadi perhatian lintas sektor sepanjang musim laporan keuangan berlangsung.
Dari sisi ekonomi, investor pada Selasa juga akan mencermati data penjualan rumah eksisting di AS serta pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve, yakni Christopher Waller, Tom Barkin, dan Susan Collins. Selanjutnya, data inflasi AS periode September yang dirilis pada pekan ini berpotensi memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Perhatian terhadap data inflasi meningkat setelah imbal hasil US Treasury baru-baru ini mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Pasar obligasi AS sendiri ditutup pada Senin waktu setempat karena libur Indigenous Peoples' Day.
Di Wall Street, perdagangan pada Senin berakhir bervariasi. Indeks Dow Jones ditutup menguat lebih dari 195 poin, sedangkan tekanan pada saham-saham memori mendorong indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 berakhir di zona negatif.

