

Market Analysis
IMF Peringatkan 3 Ancaman Besar Ekonomi Global: Energi, Utang, dan AI

KONTAN.CO.ID - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan ekonomi global menghadapi sejumlah risiko yang dapat menekan pertumbuhan, mulai dari harga energi yang masih tinggi, beban utang pemerintah yang membengkak, hingga risiko dari lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI).
Mengutip Reuters, Rabu (7/10/2026), Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan pemerintah perlu memperkuat kebijakan fiskal dan moneter untuk menghadapi berbagai tekanan tersebut.
Dalam pidatonya menjelang Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pekan depan, Georgieva mengatakan ekonomi dunia saat ini menghadapi dua kekuatan yang bergerak berlawanan. Konflik di Timur Tengah memicu guncangan negatif dari sisi pasokan energi, sementara ledakan permintaan terkait AI menjadi guncangan positif yang turut mendorong inflasi.
“Dampak gabungan dari kedua kekuatan ini sangat tidak merata di seluruh dunia,” kata Georgieva.
IMF akan merilis proyeksi ekonomi terbaru dalam pertemuan tersebut.
Georgieva mengatakan penurunan proyeksi pertumbuhan terbesar akan terjadi di negara-negara yang terdampak perang, termasuk Ukraina yang mengalami kerusakan besar pada infrastruktur sipil dan ekonominya, serta negara-negara Teluk yang terdampak serangan Iran dan penurunan tajam ekspor energi.
Georgieva belum mengungkap apakah IMF akan mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 yang sebelumnya dipatok 3% dalam proyeksi Juli. IMF sebelumnya memperkirakan pertumbuhan global meningkat menjadi 3,4% pada 2027.
Proyeksi tersebut sebelumnya mengasumsikan Selat Hormuz mulai kembali terbuka pada pertengahan Juli dan berangsur kembali ke kondisi sebelum perang pada Maret 2027. IMF juga memperkirakan harga minyak rata-rata US$89 per barel pada 2026 dan US$78 per barel pada 2027.
Namun, kondisi pasar energi kini berubah. Georgieva mengatakan harga minyak masih berada di sekitar US$100 per barel.
Gangguan kapasitas pengolahan minyak juga meningkatkan margin pengolahan atau crack spread hingga sekitar US$100 per barel untuk sejumlah produk utama, termasuk diesel.
Tekanan energi berpotensi semakin besar memasuki musim dingin ketika permintaan pemanas meningkat, sementara pasokan gas alam masih terganggu akibat ancaman terhadap pengiriman LNG melalui Selat Hormuz.
“Bahkan jika perang di Teluk segera berakhir, masalah harga energi yang tinggi kemungkinan masih akan bertahan selama beberapa waktu,” ujar Georgieva.
Menurut dia, kontrak berjangka minyak Brent juga menunjukkan harga minyak berpotensi tetap tinggi hingga 2027.
Harga energi yang tinggi kemudian berimbas pada inflasi, suku bunga acuan, dan imbal hasil obligasi pemerintah. Georgieva mencatat imbal hasil obligasi pemerintah AS, Jerman, dan Jepang bertenor 10 tahun telah berada pada level tertinggi masing-masing sejak 2007, 2009, dan 1996.
Utang Pemerintah Membengkak
Selain energi, beban utang pemerintah menjadi persoalan lain yang menjadi perhatian IMF. Menurut Georgieva, utang publik global kini berada pada level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diproyeksikan melampaui 100% dari produk domestik bruto (PDB) sebelum 2030.
Negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, disebut menjadi kelompok dengan beban utang terbesar.
Rasio utang terhadap PDB negara maju kini lebih tinggi dibandingkan negara berkembang maupun negara berpendapatan rendah.
Georgieva menilai pemerintah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi untuk menyelesaikan persoalan fiskal.
“Namun, kami tidak melihat tindakan tegas di negara-negara maju dengan utang tinggi, padahal yang dibutuhkan saat ini adalah rencana konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel,” katanya.
Ia juga memperingatkan tekanan inflasi masih bertahan setelah lebih dari lima tahun inflasi berada di atas target.
Tekanan tersebut berasal dari pembangunan infrastruktur AI, guncangan harga energi dan pangan, tarif, peningkatan belanja pertahanan, serta biaya pembayaran utang yang semakin tinggi.
Karena itu, Georgieva menilai sejumlah negara perlu menerapkan kebijakan moneter dengan kecenderungan lebih ketat secara hati-hati. Ia menyebut kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan sebagai langkah yang tepat.
Risiko Ledakan Investasi AI
Georgieva juga menyoroti risiko dari ledakan investasi AI. Investasi AI sebagai bagian dari PDB diperkirakan dapat melampaui investasi pada era pembangunan jaringan kereta api, jaringan listrik, maupun infrastruktur telekomunikasi.
Konsentrasi ekonomi dan keuangan yang semakin besar di sektor AI meningkatkan tekanan bagi perusahaan teknologi untuk membuktikan kenaikan produktivitas dan keuntungan guna membenarkan valuasi yang tinggi.
Jika ekspektasi pasar tidak terpenuhi, Georgieva memperingatkan kekecewaan investor dapat berkembang menjadi guncangan ekonomi dan keuangan yang lebih luas.
Meski demikian, AI juga memiliki potensi mendorong pertumbuhan. Riset IMF menunjukkan penggunaan AI yang tepat dapat menambah pertumbuhan ekonomi dunia sekitar 0,5 poin persentase per tahun.
Menurut Georgieva, kesiapan menghadapi AI menjadi penting, termasuk melalui regulasi yang dapat mengendalikan risiko teknologi tersebut.
Risiko itu mencakup dampak besar terhadap pasar tenaga kerja, ancaman siber, risiko terhadap stabilitas keuangan, hingga kemungkinan model AI generasi berikutnya beroperasi di luar kendali manusia.
Selain memperkuat kondisi fiskal, pemerintah juga perlu mendorong reformasi untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja, mempermudah pendirian dan penutupan perusahaan, memperkuat ketahanan energi, serta menyederhanakan regulasi guna menopang pertumbuhan ekonomi.

