English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Rupiah dan Mata Uang Asia Melawan Balik, Dolar AS Tersudut

Bloomberg Technoz · 1 Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan dengan depresiasi 0,04% ke Rp17.957/US$, bersama sebagian besar mata uang Asia. Dari kawasan, dolar Taiwan melemah paling tajam 0,19%, disusul dolar Singapura 0,02%.

Sebaliknya, sebagian mata uang berhasil defensif dan mencatat penguatan. Seperti, peso Filipina, baht Thailand, dan yuan offshore.

Namun tak lama berselang, rupiah berbalik ke zona hijau dengan penguatan terbatas 0,1% ke Rp17.932/US$ pada 09:10 WIB, bersama dengan won Korea Selatan dan ringgit Malaysia masing-masing 0,03%, dan yen Jepang 0,14%. 

Harga minyak masih bertahan tinggi di level US$102,67/barel. Namun, indeks dolar Amerika Serikat (AS) sedikit menyusut tipis ke 102,06. 

Penguatan mata uang Asia ditopang oleh meredanya tekanan dolar AS dan stabilisasi yield US Treasury tenor 10 tahun yang kembali di 5,25% setelah kemarin sempat menyentuh 5,34%. 

Setidaknya, pasar keuangan Asia mendapat sedikit ruang bernapas setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global. Akan tetapi, ruang itu masih sangat terbatas mengingat yield US Treasury belum benar-benar berbalik turun. Selama yield AS berada di atas 5%, daya tarik aset dolar AS masih relatif kuat dan tekanan bagi mata uang Asia belum sepenuhnya hilang. 

Dari sisi domestik, penguatan rupiah yang berbalik arah dari posisi pembukaannya pagi ini ditopang oleh langkah intervensi Bank Indonesia (BI). Bank sentral kini tidak lagi terlalu mengandalkan intervensi di pasar spot. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut posisi intervensi spot hanya sekitar 30% dari total intervensi valuta asung.

Sementara sisanya, BI menggunakan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan NDF. Strategi itu dimaksudkan untuk mengurangi penggunaan cadangan devisa secara langsung. 

Di pasar NDF, rupiah terkonsolidasi ke posisi Rp17.966/US$ setelah mampu defensif dan menguat sangat terbatas 0,07% pada 09:15 WIB. 

Sementara di pasar obligasi, yield tenor pendek kembali turun dengan tenor 1 tahun terpangkas 3,1 bps ke 6,74% dan tenor 3 tahun turun tipis 0,04 bps ke 6,93%. 

Di tengah pergerakan aset-aset rupiah itu, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan ekonomi dan fiskal usai terjadinya perombakan kabinet. Kocok ulang posisi dalam pemerintahan dapat menimbulkan pertanyaan mengenai desain kelembagaan dan pembagian kewenangan, terutama jika posisi-posisi itu berkaitan langsung dengan sektor strategis dan pengelolaan sumber daya ekonomi. 

Pelaku pasar akan mencermati bagaimana perubahan kabinet itu dan menerjemahkan kondisi ini menjadi ekspektasi soal kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah ke depan. 

Di tengah kondisi dan sentimen yang ada, rupiah hari berpotensi konsolidasi di rentang Rp17.870-17.980/US$.