English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Dolar AS Tembus Level Tertinggi 16 Bulan, Yield US Treasury di Atas 5%

KONTAN · 1 Views

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam 16 bulan terhadap euro dan franc Swiss pada Selasa (29/9/2026).

Penguatan dolar terjadi ketika investor mencermati data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Penguatan dolar juga ditopang oleh imbal hasil (yield) US Treasury yang bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Yield US Treasury 10 tahun ditutup di atas 5% setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007.

Melansir Reuters, indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap sejumlah mata uang utama, naik 0,2% ke 101,40, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 28 Juli.

Di pasar valuta asing, euro melemah 0,26% menjadi US$ 1,1341 setelah sempat menyentuh US$ 1,1312, level terendah sejak Mei 2025.

Euro masih tertekan oleh dampak kenaikan harga energi global serta meningkatnya risiko politik di Eropa. Kondisi tersebut membuat investor cenderung meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.

"Pada titik ini, kami bergerak dari satu data ke data berikutnya," ujar Eugene Epstein, Head of Trading and Structured Products di Moneycorp.

Menurut dia, pasar tengah mencermati data ketenagakerjaan dan inflasi untuk menilai apakah sikap hawkish yang ditunjukkan para pejabat The Fed saat ini memiliki dasar yang kuat.

Strategi pasar juga dipengaruhi oleh perbedaan suku bunga antarnegara yang semakin lebar.

Karl Schamotta, Chief Market Strategist Corpay mengatakan, pelebaran perbedaan suku bunga menjadi faktor dominan di pasar valuta asing dan mendorong dolar menguat terhadap sebagian besar mata uang utama.

Dari sisi komoditas, harga minyak mentah Brent masih berada di atas US$ 100 per barel meski turun pada perdagangan Selasa. Brent ditutup melemah 2,56% menjadi US$ 102,59 per barel.

Pasar mencermati perkembangan pasokan minyak dari Timur Tengah di tengah konflik kawasan.

Arab Saudi telah kembali melakukan pemuatan minyak dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah mengaktifkan kembali East-West Pipeline. Perkembangan tersebut memperbaiki prospek ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Agustus akan dirilis pada Rabu (30/9), disusul laporan nonfarm payrolls September pada Jumat (2/10).

Kedua data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap langkah The Fed selanjutnya.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan, The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data sebelum menentukan kapan kembali menaikkan suku bunga.

Namun, Gubernur The Fed Michael Barr kembali menyuarakan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Komentar para pejabat The Fed tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya berubah.

Kontrak futures kini menunjukkan peluang sekitar 52% untuk kenaikan suku bunga, turun dari sekitar 70% sehari sebelumnya.

Di sisi lain, dolar AS menguat 0,17% terhadap franc Swiss menjadi 0,834 franc per dolar.

Dolar Australia menjadi salah satu mata uang yang melemah setelah Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan sesuai ekspektasi. RBA menaikkan cash rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,60%, level tertinggi dalam 15 tahun.

RBA menyatakan, inflasi masih terlalu tinggi dan membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan.

Dolar Australia melemah ke level terendah dalam hampir dua bulan dan terakhir turun 0,43% menjadi US$ 0,69888.

Sementara itu, yen Jepang relatif stabil di sekitar 157,30 yen per dolar. Pelaku pasar masih mencermati peringatan mengenai kemungkinan intervensi terkoordinasi oleh Jepang dan Amerika Serikat untuk meredam pelemahan yen.