

Market Analysis
Wall Street Anjlok, Perang AS-Iran Picu Kekhawatiran Inflasi

Bloomberg Technoz, Saham-saham AS melemah pada Senin (28/9/2026) setelah kebuntuan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran inflasi akan bertahan akibat kenaikan harga energi, sehingga Federal Reserve diperkirakan harus menaikkan suku bunga secara lebih agresif.
Indeks Nasdaq 100 ditutup turun 1,1% di New York, sementara indeks S&P 500 melemah 0,8%. Kedua indeks tersebut mengakhiri perdagangan di level terendah dalam 10 hari. Harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$106 per barel.
Para trader berupaya memahami sinyal yang beragam terkait pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran. Saham sempat mengurangi pelemahan setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump bersedia memberikan keringanan sanksi kepada Iran sebagai imbalan atas kemajuan dalam isu nuklir. Namun, penolakan Trump terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz memperdalam aksi jual di pasar obligasi pemerintah AS pada Senin.Pejabat Iran secara pribadi menyatakan pesimistis mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dengan Washington dan membuka kembali jalur perairan penting tersebut sebelum pemilihan umum sela AS pada November.
“Monster berkepala tiga ini membuat pasar ketakutan hari ini,” kata David Waddell, chief investment strategist di Coastal Bridge Advisors. Menurut dia, kondisi tersebut mencakup kenaikan suku bunga, harga minyak, dan dolar AS. “Sangat sulit bagi pasar untuk menguat ketika ketiga variabel tersebut meningkat.”
Pekan ini dipenuhi sejumlah laporan ekonomi penting yang diperkirakan memberikan bukti tambahan bahwa ekonomi AS menguat. Hal itu akan memperkuat alasan sejumlah pejabat The Fed yang menilai suku bunga seharusnya berada di level lebih tinggi. Selasa akan menjadi awal dengan rilis data kepercayaan konsumen September dan data lowongan kerja JOLTS Agustus. Data ketenagakerjaan utama akan dirilis pada Jumat.
Kondisi perdagangan saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan juga kemungkinan menjadi perhatian. Micron Technology dijadwalkan melaporkan kinerja pada Rabu setelah penutupan pasar. Kathleen Brooks, direktur riset XTB, mengatakan saham-saham yang terkait tema AI telah “bergerak di antara dua ekstrem” dalam beberapa pekan terakhir.
“Investor akan mencermati margin, pendapatan, proyeksi permintaan dan laba,” kata Brooks terkait laporan Micron. “Margin menjadi perhatian khusus karena biaya memori melonjak.”
Di antara pergerakan saham individual, Nvidia menguat setelah meningkatkan otorisasi program pembelian kembali saham sebesar rekor US$150 miliar atau sekitar Rp2.688 triliun (dengan asumsi US$1 sama dengan Rp17.920). Saham MongoDB anjlok setelah Meta Platforms menunjuk presiden dan CEO perusahaan tersebut untuk memimpin platform AI baru bagi pelanggan korporasi.
- Saham perusahaan pertambangan logam mulia sebagian besar melemah, mengikuti penurunan harga emas dan perak.
- American Express menjadi salah satu perusahaan keuangan yang kemungkinan menghadapi tekanan lebih besar setelah Federal Reserve mengambil sikap hawkish dan diperkirakan menaikkan suku bunga tiga hingga empat kali lagi hingga akhir tahun depan, menurut Moshe Orenbuch dari TD Cowen.
- Saham perusahaan baja AS melemah setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana pembangunan pabrik baja Mesabi Metallics senilai US$15 miliar atau sekitar Rp268,8 triliun di Iowa. Pabrik tersebut ditargetkan menghasilkan 10 juta ton baja per tahun dan mulai beroperasi pada 2030.
- ETF iShares Expanded Tech-Software Sector melemah setelah Meta memperkenalkan Meta Enterprise Platform, yang dirancang untuk membawa produk agen AI Muse milik perusahaan tersebut ke lebih banyak bisnis dan pengembang.

