English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Alert Hari Ini: Wall Street Rontok, Ekonomi RI Melesat, DHE Direvisi?

CNBC Indonesia · 1 Views

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak menguat pada perdagangan kemarin, Kamis (5/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali menembus level 5.000, sementara rupiah menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan Indonesia diharapkan dapat melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, Jumat (6/11/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

IHSG melesat 110,49 poin atau 2,25% ke posisi 5.030,26, melanjutkan penguatan setelah sehari sebelumnya naik 0,32%.

Pada awal perdagangan, IHSG langsung dibuka menguat di level 4.998,34 dan tidak pernah memasuki zona merah sepanjang sesi perdagangan.

Indeks kemudian terus bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi hariannya di 5.072,05 atau menguat sekitar 3,1% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Menjelang akhir perdagangan, penguatan IHSG sedikit berkurang. Meski demikian, indeks tetap berhasil mempertahankan posisinya di atas level psikologis 5.000.

Total volume perdagangan mencapai 22,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10 triliun.

Sebanyak 440 saham menguat, 178 melemah dan 99 stagnan.  Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 65,53 miliar.

Berdasarkan data Refinitiv, sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan IHSG dengan kenaikan 4,60%. Sektor barang baku (basic materials) turut menguat 3,48%.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang penguatan IHSG, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).

Dari sisi sentimen, penguatan pasar saham terjadi di tengah perhatian investor terhadap hasil pemilu sela AS, anjloknya harga minyak dunia, serta rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal III-2026, melampaui konsensus CNBC Indonesia sebesar 5,20%.

Pertumbuhan tersebut juga meningkat dibandingkan kuartal II-2026 yang tercatat sebesar 5,29% YoY.

Dari eksternal, harga minyak dunia yang anjlok lebih dari 8% turut menjadi perhatian investor setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS memunculkan harapan meredanya konflik di Timur Tengah.

Di pasar mata uang, rupiah juga berhasil menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (5/11/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di posisi Rp18.075/US$ atau menguat 0,44% dibandingkan penutupan Rabu (4/11/2026) di Rp18.155/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp18.055 hingga Rp18.170/US$.

Penguatan rupiah terjadi seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) turun 0,16% ke posisi 101,405.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi pasar.

Selain pertumbuhan ekonomi, BPS juga melaporkan penurunan jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2026.

Jumlah pengangguran tercatat sebanyak 7,38 juta orang atau turun 77.000 orang dibandingkan Agustus 2025. Sementara itu, jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 1,4 juta orang menjadi 147,9 juta orang.

Data pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari perkiraan serta penurunan jumlah pengangguran memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik.

Dari eksternal, perhatian investor kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan pada Jumat (6/11/2026).

Data tersebut menjadi penting untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan politik AS setelah Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres dalam pemilu sela, serta pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan tajam.

Berbagai perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS, aliran modal global, serta arah pasar keuangan Indonesia pada perdagangan akhir pekan.

Di pasar surat berharga negara (SBN), imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat berada di level 7,740% pada perdagangan Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan pergerakan pada grafik Refinitiv, yield SBN 10 tahun tersebut melanjutkan kenaikan dan berada lebih tinggi dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Kenaikan yield tersebut mengindikasikan adanya tekanan pada harga obligasi pemerintah Indonesia.

Sebagai catatan, pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Yield yang naik menunjukkan harga obligasi turun, begitu pula sebaliknya.