

Market Analysis
Bursa Saham Australia Menguat, Investor Menanti Keputusan Suku Bunga RBA

KONTAN.CO.ID – Penurunan tajam harga minyak dunia serta harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah turut mendorong sentimen positif investor menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA).
Mengutip Reuters, indeks S&P/ASX 200 naik 0,4% ke level 8.891,90 pada pukul 23.25 GMT. Penguatan ini membalikkan pelemahan 0,6% yang terjadi pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Sektor pertambangan menjadi salah satu penopang utama dengan kenaikan 1,4%.
Penguatan ini mengakhiri tren penurunan selama tiga sesi berturut-turut, seiring stabilnya harga bijih besi dan pulihnya harga tembaga. Saham BHP dan Fortescue masing-masing naik sekitar 0,5%.
Saham-saham pertambangan emas juga melonjak 3%. Kenaikan tersebut membawa indeks sektor emas menuju kinerja harian terbaik sejak pertengahan Oktober, setelah harga emas dunia bangkit dari posisi terendah dalam setahun pada perdagangan semalam.
Sentimen positif juga datang dari penurunan harga minyak dunia sekitar 7%. Harapan meredanya perang Iran setelah berlangsungnya pembicaraan antara pejabat Iran dan Qatar turut mendorong optimisme pasar.
Penurunan harga minyak memberikan angin segar bagi sektor penerbangan yang selama ini terbebani tingginya biaya bahan bakar.
Saham Qantas Airways melonjak 6,4%, sedangkan Virgin Australia melesat 8,3%. Keduanya menjadi saham dengan kenaikan terbesar pada perdagangan tersebut.
Namun, penurunan harga minyak justru menekan saham energi. Indeks sektor energi terkoreksi 4% dan berada di jalur penurunan harian terbesar sejak 15 Juni. Saham Woodside Energy dan Santos masing-masing melemah sekitar 4%.
Di sektor keuangan, indeks saham perbankan menguat 0,5%. Empat bank terbesar Australia mencatat kenaikan saham dalam kisaran 0,3% hingga 1,4%.
Waspadai Kenaikan Suku Bunga
Di tengah penguatan bursa, perhatian investor tertuju pada keputusan suku bunga RBA yang dijadwalkan diumumkan pada Selasa.
Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan serta pernyataan sejumlah pejabat bank sentral yang cenderung hawkish meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Peluang RBA menaikkan suku bunga untuk kelima kalinya kini mendekati 90%, melonjak dari sekitar 25% dua pekan sebelumnya.
Potensi kenaikan suku bunga tersebut menjadi risiko bagi pasar saham, terutama perusahaan yang bergantung pada daya beli konsumen.
Tekanan terhadap konsumsi rumah tangga mulai terlihat. Bulan lalu, sejumlah perusahaan seperti Bunnings, unit bisnis perangkat keras milik Wesfarmers, peritel furnitur Nick Scali, dan perusahaan properti Mirvac melaporkan pelemahan permintaan.
Kondisi tersebut terjadi ketika rumah tangga mulai membatasi pengeluaran akibat meningkatnya biaya pinjaman dan bahan bakar.
Sementara itu, bursa saham Selandia Baru bergerak melemah tipis. Indeks S&P/NZX 50 turun 0,1% ke level 13.685,05.

