

Market Analysis
Dolar AS Melemah Selasa (3/11), Harga Minyak Anjlok 7% dan Investor Cermati Pemilu AS

KONTAN.CO.ID - Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa (3/11/2026), seiring penurunan tajam harga minyak dunia yang meredakan kekhawatiran inflasi.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan diplomasi antara AS dan Iran serta keputusan suku bunga sejumlah bank sentral pekan ini.
Mengutip Reuters, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat melemah tipis ke level 101,76.
Posisi tersebut melanjutkan tekanan setelah indeks dolar menyentuh level terendah dalam satu bulan pada perdagangan Senin (2/11/2026).
Pelemahan dolar terjadi bersamaan dengan penurunan harga minyak mentah. Kontrak berjangka minyak Brent anjlok lebih dari 7% pada Senin, menjadi penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan harga minyak dipicu harapan tercapainya terobosan diplomatik antara Washington dan Teheran. Iran menyatakan komunikasi dengan AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama delapan bulan masih berlanjut.
Harga energi yang lebih rendah membantu meredakan kekhawatiran terhadap inflasi dan mendorong penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS bertenor panjang.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat stabil di level 4,9145%, sedangkan yield obligasi tenor 30 tahun bertahan di 5,2868%.
Sebelumnya, kedua imbal hasil tersebut sempat turun ke level terendah dalam hampir dua bulan pada perdagangan Senin.
Sentimen Risiko dan Pemilu AS Membayangi Dolar
Meski dolar melemah, tekanan terhadap mata uang AS masih tertahan oleh meningkatnya ketidakpastian pasar.
Pelemahan saham-saham berbasis teknologi akibat kekhawatiran terhadap investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih berlanjut dan menekan sentimen risiko investor.
Selain itu, pemilihan paruh waktu atau midterm elections AS yang berlangsung Selasa (3/11/2026) turut menjadi perhatian pasar. Ketidakpastian politik tersebut berpotensi menopang permintaan dolar sebagai aset safe haven.
Ahli strategi valuta asing OCBC, Sim Moh Siong, mengatakan penurunan harga minyak mulai memberikan kelegaan bagi pasar, tetapi keyakinan investor terhadap arah pergerakan aset lainnya masih terbatas.
"Penurunan harga minyak memberikan kelegaan, tetapi keyakinan terhadap pasar lainnya masih tipis," kata Sim dalam catatannya.
Menurutnya, energi yang lebih murah mulai mengubah dinamika pasar valuta asing. Namun, kekhawatiran terhadap saham teknologi dan risiko politik AS masih menjadi faktor yang menopang dolar.
Di pasar valuta asing lainnya, euro menguat tipis menjadi US$ 1,1185 terhadap dolar AS. Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di level 157,915 per dolar AS di tengah libur pasar domestik.
Investor Menanti Keputusan Suku Bunga Bank Sentral
Selain perkembangan geopolitik dan politik AS, investor juga mencermati keputusan kebijakan moneter sejumlah bank sentral yang dijadwalkan berlangsung pekan ini, termasuk di Inggris, Australia, Norwegia, dan Swedia.
Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,85% pada Selasa. Jika terealisasi, suku bunga tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak Desember 2008.
Kenaikan tersebut juga akan menambah total pengetatan kebijakan moneter Australia sepanjang tahun ini menjadi 125 basis poin melalui lima kali kenaikan suku bunga.
Menjelang keputusan tersebut, dolar Australia bergerak relatif stabil di level US$ 0,7002. Sementara itu, dolar Selandia Baru atau kiwi juga tidak banyak berubah di level US$ 0,5617.
Dari Inggris, pound sterling menguat 0,05% menjadi US$ 1,3414. Penguatan tersebut didukung data indeks manajer pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) yang menunjukkan sektor manufaktur Inggris mengawali kuartal terakhir 2026 dengan pertumbuhan output terkuat dalam lebih dari dua tahun.
Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Bank of England (BoE) akan menaikkan suku bunga acuan dari 3,75% menjadi 4%.
Kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak Agustus 2023, ketika inflasi Inggris masih lebih dari tiga kali lipat target bank sentral sebesar 2%.

