English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

OPEC+ Mempertahankan Target Produksi Minyak Desember 2026

Dupoin · 1 Views

Liputan6.com, Jakarta - Negara-negara produsen minyak OPEC+ pada Minggu, 1 November 2026 memutuskan mempertahankan target produksi Desember, yang mengonfirmasi perkiraan tidak akan ada penyesuaian kebijakan lebih lanjut hingga tahun depan. Keputusan ini diambil di tengah upaya kelompok tersebut dalam menghadapi gangguan ekspor akibat perang yang melibatkan Iran.

Mengutip CNBC, Senin, (2/11/2026), OPEC menyatakan dalam sebuah pernyataan tujuh anggota inti OPEC+, Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman mencapai kesepakatan tersebut dalam pertemuan daring pada Minggu.

Meskipun negara-negara anggota di kawasan Teluk telah berupaya meningkatkan ekspor yang sempat terganggu selama berbulan-bulan akibat konflik tersebut, sebagian besar di antaranya masih memproduksi minyak jauh di bawah target yang ditetapkan.

OPEC+ terdiri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta negara-negara sekutunya, termasuk Rusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, hanya tujuh anggota tersebut, ditambah Uni Emirat Arab sebelum keluar dari OPEC pada Mei yang terlibat dalam pengambilan keputusan terkait tingkat produksi bulanan. Seluruh anggota kelompok yang terdiri dari 21 negara ini dijadwalkan untuk bertemu pada 29 November, di mana para analis memperkirakan akan ada penetapan kuota untuk 2027.

"Keputusan hari ini adalah langkah yang mudah," ujar Analis Rystad, Jorge Leon.

"Ujian yang jauh lebih penting akan terjadi pada pertemuan tingkat menteri tanggal 29 November, saat OPEC+ menentukan kerangka produksi untuk tahun 2027,” ia menambahkan.

Harga minyak melonjak lebih dari 2% pada Jumat, dengan harga minyak mentah Brent ditutup mendekati US$ 118 per barel, level tertinggi sejak April. Hal ini seiring dengan antisipasi para pedagang terhadap potensi eskalasi perang yang melibatkan Iran setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.

Badan Energi Internasional (IEA) dan sejumlah lembaga peramal lainnya telah memperingatkan akan adanya kelebihan pasokan pada 2027 jika arus ekspor dari kawasan Teluk kembali normal.

"OPEC+ menghadapi keputusan yang sangat sulit untuk tahun 2027," Leon menambahkan.

"Kelompok ini harus menyusun rencana di tengah ketidakpastian besar terkait perang yang melibatkan AS dan Iran, kecepatan pemulihan arus melalui Selat Hormuz, serta besarnya surplus yang mungkin muncul begitu pasokan minyak yang sempat terganggu kembali mengalir ke pasar." Tinjauan kapasitas produksi minyak menjadi sorotan

Ketujuh anggota kelompok tersebut telah meningkatkan target produksi sepanjang sebagian besar 2026, dan pada September, mereka merampungkan penghapusan bertahap kebijakan pemangkasan pasokan sebesar 1,65 juta barel per hari yang disepakati pada tahun 2023. Dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya, mereka memutuskan untuk mempertahankan target tersebut untuk Oktober dan November.

OPEC+ masih memiliki satu lapisan pemangkasan produksi lainnya, yakni sekitar 2 juta barel per hari, yang mencakup sebagian besar anggotanya hingga akhir tahun 2026.

Menurut sejumlah sumber, kelompok tersebut perlu merampungkan tinjauan mengenai kapasitas produksi masing-masing anggota selama kuartal keempat. Tinjauan ini menjadi prasyarat untuk menetapkan tolok ukur (baseline) tahun 2027, yang nantinya akan menentukan kuota di masa depan serta menyusun rencana untuk mengakhiri pemangkasan produksi tersebut.

Sebagaimana dilaporkan Reuters pada Oktober, konflik yang melibatkan Iran telah mengganggu berbagai proyek perluasan kapasitas di Timur Tengah, sehingga menimbulkan ketidakpastian terhadap estimasi potensi produksi di masa depan. Akibatnya, tinjauan tersebut kini diperkirakan baru akan rampung pada pertengahan November.

Pada Jumat, harga minyak melonjak lebih dari 2% dan ditutup pada level tertinggi sejak akhir April, seiring dengan antisipasi para pedagang terhadap kemungkinan eskalasi konflik.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember yang berakhir pada Jumat, ditutup naik US$ 2,76 atau 2,4% menjadi US$ 117,64 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi di angka US$ 118. Kontrak untuk bulan Januari, yang lebih aktif diperdagangkan, naik US$ 2,63 menjadi US$ 113,43.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup naik US$ 2,12 atau 2,08% menjadi US$ 104,12.