English
English
Tiếng Việt
ภาษาไทย
繁體中文
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
zu-ZA
0

Market Analysis

Rojali dan Rohana Potret Daya Beli yang Lesu, Investasi Saham Justru Catat Rekor Baru
Ocky Satria · 459K Views

Rojali dan Rohana Potret Daya Beli yang Lesu, Investasi Saham Justru Catat Rekor Baru

Fenomena Rojali dan Rohana mendadak viral di media sosial dalam beberapa waktu terakhir. Rojali, singkatan dari Rombongan Jarang Beli, dan Rohana, singkatan dari Rombongan Hanya Nanya, digunakan warganet untuk menggambarkan perilaku masyarakat yang gemar melihat-lihat atau bertanya soal barang, tetapi jarang benar-benar membeli. Walau terdengar lucu, istilah ini memunculkan diskusi serius soal daya beli masyarakat yang dinilai menurun di tengah tekanan ekonomi.

Menariknya, ketika perilaku konsumsi riil masyarakat cenderung melemah, tren investasi di pasar modal justru menunjukkan pertumbuhan. Menurut laporan Bursa Efek Indonesia yang diterbitkan pada 2 Juni 2025, jumlah investor saham di Indonesia disebutkan telah melampaui 7 juta Single Investor Identification (SID), meningkat lebih dari 600 ribu investor hanya dalam beberapa bulan pertama tahun 2025. Data ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat lebih selektif dalam berbelanja, minat terhadap investasi, khususnya saham, semakin tinggi.

Apa itu Rojali dan Rohana?

Istilah Rojali merujuk pada perilaku masyarakat yang senang mengunjungi pusat perbelanjaan atau platform e-commerce untuk melihat-lihat barang, membandingkan harga, bahkan memasukkan produk ke keranjang belanja, namun akhirnya tidak melakukan pembelian. Aktivitas ini sering kali menjadi hiburan tersendiri atau bentuk mencari inspirasi, tanpa niat membeli secara langsung.

Sementara itu, Rohana menggambarkan kelompok orang yang gemar bertanya detail tentang suatu produk  mulai dari harga, spesifikasi, hingga metode pembayaran tetapi tidak diikuti dengan aksi membeli. Mereka aktif di media sosial atau forum jual beli, mengajukan pertanyaan, namun transaksi tidak pernah terjadi. Kedua istilah ini mencerminkan perilaku konsumen yang lebih hati-hati dalam mengeluarkan uang, baik karena faktor kebutuhan maupun keterbatasan daya beli.

Alasan Rojali dan Rohana Dinilai sebagai Pelemahan Daya Beli

Meengutip artikel Kompas.id (28/7/2025), yang membahas fenomena ini, perilaku Rojali dan Rohana dapat menjadi indikator melemahnya daya beli masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah pendapatan yang stagnan di tengah kenaikan harga barang dan jasa, sehingga masyarakat lebih berhitung sebelum melakukan pembelian. Faktor lain adalah perubahan preferensi konsumsi, di mana masyarakat cenderung menunda pembelian barang yang dianggap tidak mendesak.

Selain itu, kemajuan teknologi membuat aktivitas “window shopping” atau sekadar mencari informasi menjadi jauh lebih mudah. Platform e-commerce dan media sosial memungkinkan orang untuk mengeksplorasi berbagai produk tanpa perlu mengeluarkan biaya, sehingga perilaku hanya melihat atau bertanya menjadi semakin umum. Menurut Kompas.id, fenomena ini bisa jadi merupakan strategi ekonomi masyarakat untuk tetap terhubung dengan tren tanpa mengorbankan stabilitas keuangan pribadi.

Peningkatan Investor Saham di BEI

Di tengah fenomena melemahnya daya beli, pasar modal Indonesia justru mencatat pertumbuhan signifikan pada jumlah investor saham. Menurut laporan Bursa Efek Indonesia yang diterbitkan pada 2 Juni 2025, jumlah investor saham per 31 Desember 2024 mencapai 6.381.444 SID. Hanya dalam beberapa bulan pertama tahun 2025, jumlah tersebut bertambah 619.824 SID, sehingga totalnya kini telah melampaui 7 juta SID.

Peningkatan ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku finansial masyarakat dari konsumsi langsung menuju investasi. Banyak orang yang memilih untuk mengalokasikan dana mereka ke instrumen investasi, dengan harapan dapat memperoleh keuntungan jangka menengah hingga panjang, sekaligus melindungi nilai uang dari inflasi.

Klik Banner untuk informasi lebih lanjut terkait program Swap Promo.

Faktor Pendorong Peningkatan Investor Saham

Ada beberapa faktor yang mendorong meningkatnya jumlah investor saham di Indonesia. Pertama adalah kemudahan akses teknologi. Platform investasi berbasis aplikasi kini memungkinkan siapa pun, termasuk generasi muda, untuk membuka akun dan bertransaksi saham hanya dengan ponsel. Kedua adalah gencarnya program literasi keuangan.

Faktor ketiga adalah situasi ekonomi global yang membuat masyarakat mencari alternatif pengelolaan aset selain tabungan konvensional. Investasi saham dianggap sebagai salah satu cara untuk mengimbangi tekanan inflasi sekaligus membangun kekayaan. Terakhir, meningkatnya minat generasi milenial dan Gen Z terhadap investasi juga menjadi pendorong penting. Mereka melihat investasi bukan sekadar aktivitas finansial, tetapi bagian dari gaya hidup dan perencanaan masa depan.

 

Tips Memulai Investasi Saham Bagi Pemula

Bagi Anda yang baru ingin memulai investasi saham, langkah pertama yang penting dilakukan adalah membekali diri dengan edukasi. Pelajari konsep dasarnya seperti cara kerja saham, serta risiko dan potensi keuntungannya. Pemahaman ini akan membantu Anda membuat keputusan investasi yang lebih bijak.

Selanjutnya, penting untuk menguasai analisis fundamental dan teknikal. Analisis fundamental akan membantu Anda menilai kesehatan keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan, sementara analisis teknikal berguna untuk membaca tren harga dan menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual saham.

Anda juga perlu menentukan tujuan investasi dan profil risiko sejak awal. Apakah tujuan Anda adalah membangun dana pensiun, membeli properti, atau sekadar memperoleh keuntungan jangka pendek? Jawaban ini akan memengaruhi strategi dan jenis saham yang dipilih. Hindari membuat keputusan hanya karena tren sesaat atau ajakan teman, karena hal tersebut bisa membuat Anda terjebak dalam pola investasi yang tidak sehat.

 

Dupoin sebagai Platform Trading Saham (CFD)

Jika Anda mencari platform yang memudahkan pemula untuk berinvestasi, Dupoin adalah salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan. Dupoin memungkinkan Anda melakukan trading saham internasional dalam bentuk Contract for Difference (CFD), termasuk saham-saham besar seperti Apple, Google, dan lainnya.

Keunggulan Dupoin terletak pada kelengkapan fitur yang mendukung trader di semua level. Tersedia materi edukasi yang komprehensif, analisa harian dari analis profesional, serta dukungan penuh bagi klien untuk memahami pasar. Selain itu, Dupoin menawarkan proses deposit dan penarikan dana yang instan, sehingga Anda dapat mengatur modal dengan cepat dan fleksibel.

Bagi pengguna baru, Dupoin juga memiliki program Welcome Reward yang memberikan keuntungan tambahan di awal perjalanan trading. Dengan kombinasi edukasi, teknologi, dan dukungan profesional, Dupoin dirancang untuk membantu Anda berinvestasi secara efektif di pasar global.

Baca juga: Daftar Saham Amerika IPO 2025: Peluang Trading Terbaik di Wall street

Fenomena Rojali dan Rohana menjadi gambaran menarik tentang kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Di satu sisi, daya beli masyarakat terlihat melemah, tercermin dari perilaku hanya melihat atau bertanya tanpa melakukan pembelian. Namun di sisi lain, minat terhadap investasi saham terus meningkat. Menurut laporan Bursa Efek Indonesia yang diterbitkan pada 2 Juni 2025, jumlah investor saham di Indonesia telah melampaui 7 juta SID, sebuah pencapaian yang menunjukkan pertumbuhan literasi dan partisipasi di pasar modal.

Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar akan pentingnya mengelola keuangan secara strategis. Dengan edukasi yang tepat dan pemilihan platform yang andal seperti Dupoin, Anda bisa memanfaatkan momentum ini untuk membangun masa depan finansial yang lebih kuat.

 

 

Mulailah trading sekarang di Dupoin #One-Stop Trading Platform! Download aplikasinya untuk mendapatkan update terbaru seputar dunia trading dan investasi. Dan jangan lupa untuk selalu membagikan konten ini ke sesama trader lainnya. Semoga bermanfaat!

Need Help?
Click Here