English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Wall Street "Rebound", Pengecualian Tarif Trump Jadi Sentimen Positif

KOMPAS · 55.9K Views

NEW YORK, KOMPAS.com - Pasar saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street menanjak pada perdagangan yang berakhir Rabu (5/3/2025) sore waktu setempat (Kamis pagi WIB).

Hal ini menjadi kenaikan pertama setelah Wall Street menelan kerugian berturut-turut sebelumnya.

Investor dan pelaku pasar menaruh harapan bahwa pengecualian bagi produsen mobil dalam tarif Presiden AS Donald Trump mampu membuka pintu bagi lebih banyak konsesi.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 485,60 poin (1,14 persen) pada level 43.006,59. Indeks ini kembali hijau setelah anjlok lebih dari 1.300 poin selama dua sesi terakhir.

Lalu, indeks S&P 500 naik 1,12 persen ke level 5.842,63. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite bertambah 1,46 persen menjadi 18.552,73.

Saham menguat setelah Gedung Putih memberikan penundaan satu bulan untuk tarif pada produsen mobil yang mobilnya mematuhi Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada. Saham Stellantis naik lebih dari 9 persen.

Di samping itu, saham Ford dan General Motors terapresiasi lebih dari 5 persen dan 7 persen.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt juga mengatakan Trump terbuka untuk memberikan pengecualian tambahan pada pajak.

Reli tajam terjadi pada perdagangan sore setelah pengumuman tersebut.

Sekitar tiga dari empat anggota S&P 500 berakhir lebih tinggi, sementara Russell 2000 yang berfokus pada kapitalisasi pasar kecil naik sekitar 1 persen.

Saham teknologi seperti Microsoft dan Tesla juga menanjak dalam sesi tersebut. Ini menandai perubahan setelah sektor tersebut memimpin penurunan pasar baru-baru ini.

Namun, ketidakpastian masih ada saat Trump mengatakan upaya Kanada dalam mengatasi fentanil tidak cukup baik dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

Sedikit catatan, tiga indeks utama tersebut berfluktuasi antara wilayah positif dan negatif pada Rabu sebelum pengumuman penundaan bagi produsen mobil, yang menggarisbawahi meningkatnya volatilitas pasar saat investor memantau status kebijakan tarif.